Eks Bos Mabua Harley-Davidson Irit Bicara Usai Diperiksa

    Candra Yuri Nuralam - 04 Februari 2020 16:55 WIB
    Eks Bos Mabua Harley-Davidson Irit Bicara Usai Diperiksa
    Mantan Direktur Utama PT Mabua Harley-Davidson Djonnie Rahmat. Foto: Medcom.id/Candra Yuri Nuralam
    Jakarta: Mantan Direktur Utama PT Mabua Harley-Davidson Djonnie Rahmat irit bicara setelah diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dia membantah terlibat kasus suap pengadaan pesawat dan mesin pesawat dari Airbus SAS dan Rolls-Royce PLC pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.

    "Cuma kebetulan saja saya dipanggil. Enggak ada apa apa kok. Terima kasih," kata Djonnie usai pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Selasa, 4 Januari 2020.

    Dia pun enggan menanggapi pertanyaan pewarta. Dia hanya menegaskan tidak ada pemberian dari Direktur Utama PT Garuda Indonesia periode 2005-2014, Emirsyah Satar, kepada Mabua Harley-Davidson.

    Djonnie dipanggil KPK untuk dimintai keterangan sebagai saksi. Dia dikorek untuk melengkapi berkas tersangka Direktur Teknik dan Pengelolaan Armada PT Garuda Indonesia 2007-2012, Hadinoto Soedigno.

    Hardinoto ditetapkan sebagai tersangka sejak 7 Agustus 2019. Status itu dilekatkan Korps Antirasuah dalam pengembangan kasus suap Emirsyah Satar. 

    KPK menemukan adanya dugaan penggunaan puluhan rekening bank di luar negeri terkait kasus suap ini. Selain Emirsyah dan Hadinoto, KPK juga telah menetapkan pendiri PT Mugi Rekso Abadi sekaligus beneficial owner Connaught International Pte Ltd, Soetikno Soedarjo, sebagai tersangka.

    Emirsyah diduga menerima suap dari Soetikno hingga 1,2 juta Euro dan USD180 ribu atau setara Rp20 miliar. KPK menyebut uang suap yang diberikan Soetikno kepada Emirsyah dan Hadinoto tidak hanya berasal dari AirBus SAS dan Rolls-Royce.

    Ada fulus terkait kontrak pembelian pesawat ATR 72-600 dengan perusahaan Avions de Transport Regional (ATR). Selain itu, ada suap terkait kontrak pembelian pesawat Bombardier CRJ 1000 dengan perusahaan Bombardier Aerospace Commercial Aircraft.

    Selaku konsultan bisnis Rolls-Royce, Airbus, dan ATR, Soetikno diduga menerima komisi dari tiga pabrikan itu. Soetikno juga diduga menerima komisi dari perusahaan Hong Kong, Hollingsworth Management Limited International Ltd (HMI), yang menjadi sales representative dari perusahaan Bombardier.

    Eks Bos Mabua Harley-Davidson Irit Bicara Usai Diperiksa
    Terdakwa suap pengadaan pesawat dan mesin pesawat dari Airbus SAS dan Rolls-Royce PLC pada Garuda Indonesia, Emirsyah Satar, saat menjalani sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta. Foto: MI/Bary Fatahilah

    Pembayaran komisi tersebut diduga terkait dengan keberhasilan Soetikno dalam membantu tercapainya kontrak antara PT Garuda Indonesia dengan empat pabrikan tersebut. Soetikno selanjutnya memberikan sebagian dari komisi tersebut kepada Emirsyah dan Hadinoto.

    Untuk Emirsyah, Soetikno diduga memberi Rp 5,79 miliar untuk pembayaran rumah di Pondok Indah, USD 680 ribu dan EUR 1,02 juta yang dikirim ke rekening perusahaan milik Emirsyah di Singapura dan SGD 1,2 juta untuk pelunasan apartemen di Singapura. Soetikno diduga memberi USD 2,3 juta dan EUR 477 ribu yang dikirim ke rekening Hardinoto di Singapura.

    Emirsyah dan Soetikno diduga melanggar pasal 3 atau pasal 4 Undang-Undang (UU) Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

    Tersangka Hadinoto diduga melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 64 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.





    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id