Penembak Bos Pelayaran Bukan Residivis

    Yurike Budiman - 25 Agustus 2020 19:43 WIB
    Penembak Bos Pelayaran Bukan Residivis
    Rekonstruksi penembakan Sugianto oleh tersangka DM di Ruko Royal Gading Square, Selasa, 25 Agustus 2020. Foto: Medcom.id/Yurike Budiman
    Jakarta: Tersangka DM alias Mahfud, 50, penembak bos pelayaran Sugianto, 51, sempat berucap telah bertobat saat menolak ajakan tersangka RS, 45, membunuh. Meski demikian, polisi menyampaikan DM tidak mempunyai latar belakang terlibat kasus tindak pidana.

    "Berdasarkan informasi dan data yang didapat, kami tidak menemukan adanya (bukti) bahwa yang bersangkutan merupakan residivis," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Metro Jakarta Utara, Komisaris Polisi (Kompol) Wirdhanto Hadicaksono, Selasa, 25 Agustus 2020.

    Kasus pembunuhan Sugianto diduga kuat menjadi perkara hukum pertama yang membelit DM. Hingga kini, polisi juga tidak menemukan catatan kriminal terkait riwayat tersangka DM.

    "Sementara belum ada," lanjut Wirdhanto .

    DM menolak ajakan untuk membunuh Sugianto saat ditelpon RS pada Senin, 10 Agustus 2020. Hal itu terungkap saat reka adegan di Subdirektorat Reserse Mobil Direktorat Reserse Kriminal Umum (Resmob Ditreskrimum) Polda Metro Jaya.

    "Mohon maaf Pak, saya sudah tobat," jawab DM.

    Pembunuhan Sugianto direncanakan staf administrasi keuangan korban di PT Dwi Putra Tirtajaya, NL, 34. Otak pembunuhan itu dendam terhadap korban.
     
    "Jadi, untuk motif tersangka ada dua, pertama tersangka ini sakit hati karena yang bersangkutan sering dimarahi, sering diajak untuk bersetubuh, dan ada pernyataan yang mengatakan perempuan tidak laku," kata Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal (Irjen) Nana Sudjana, Senin, 24 Agustus 2020.
     
    Menurut dia, tersangka yang sudah bekerja sejak 2012 di PT Dwi Putra Tirtajaya kerap mendapat ancaman dari Sugianto. Teror muncul saat korban diketahui tidak membayar pajak. Korban mengancam tersangka untuk tidak melaporkan pajak.

    "Ada indikasi menggelapkan uang, ada beberapa kali teguran dari Kantor Pajak Jakarta Utara ke perusahaan tersebut. Hal ini sempat dari pihak korban menyampaikan bahwa tersangka akan dilaporkan ke polisi," ujar Nana.

    Baca: Penembak Bos Pelayaran Sempat Menolak Tawaran karena Sudah Bertobat

    Dua motif ini membuat NL gelap mata hingga ingin membunuh bosnya. Dia merencanakan pembunuhan sejak Jumat, 20 Maret 2020. Dia menyewa pembunuh bayaran hingga 11 orang terlibat pembunuhan tersebut.
     
    "Dibayar Rp200 juta, Rp100 juta melalui transfer dari Bank BNI, Rp100 juta bayar tunai," ucap Nana.

    DM alias M yang didatangkan dari Bangka Belitung ditunjuk menjadi eksekutor. Dia menembak Sugianto di kepala dan punggung hingga meninggal dunia di Rumah Toko (Ruko) Royal Gading Square, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis, 13 Agustus 2020.

    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id