Hakim Minta Novel Dihadirkan di Sidang Pembuktian Awal

    Fachri Audhia Hafiez - 19 Maret 2020 22:25 WIB
    Hakim Minta Novel Dihadirkan di Sidang Pembuktian Awal
    Penyidik KPK Novel Baswedan di lobi Gedung KPK, Rasuna Said, Jakarta. Foto: MI/Susanto
    Jakarta: Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara meminta penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan dihadirkan lebih awal dalam sidang pembuktian terkait kasus penyiraman air keras. Novel diminta bersaksi bersamaan dengan saksi pelapor.

    "Maka sesuai dengan ketentuan hukum acara yang harus dihadirkan adalah saksi korban, yang utama dulu adalah saksi pelapor dulu. Kedua Novel Baswedan, itu pada sidang pembuktian pertama," kata ketua majelis hakim Djumyanto saat persidangan di PN Jakarta Utara, Jalan Gajah Mada, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis, 19 Maret 2020.

    Saksi pelapor yang dimaksud ialah tetangga Novel, Yasri Yudha Yahya. Yasri menjadi saksi mata penyiraman air keras terhadap Novel, Selasa, 17 April 2017.

    Majelis telah meneliti 22 saksi yang bakal dihadirkan jaksa penuntut umum. Keseluruhan saksi dimungkinkan diperiksa bersamaan jika saling berkaitan.

    "Eko Yulianto sampai dengan saksi Muhammad Rifki Novian adalah mereka yang pada saat kejadian hanya menolong. Jadi keterangan tidak terlalu banyak nanti bisa satu sesi persidangan bisa panggil empat sekaligus," ujar Djumyanto.

    Polisi, Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette, didakwa menganiaya berat Novel Baswedan secara bersama-sama dan direncanakan. Pelaku menyiramkan cairan asam sulfat (H2SO4) ke badan dan muka Novel.

    Perbuatan pelaku membuat Novel mengalami luka berat. Korban kini sulit menjalani pekerjaan karena kerusakan pada selaput bening (kornea) mata kanan dan kiri. 

    Hakim Minta Novel Dihadirkan di Sidang Pembuktian Awal
    Sidang dakwaan dua penyerang penyidik KPK Novel Salim Baswedan di PN Jakarta Utara, Kamis, 19 Maret 2020. Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez

    Baca: Pengacara Klaim Penyerang Novel Berjiwa Ksatria

    Luka itu berpotensi menyebabkan kebutaan atau hilangnya indra penglihatan. Ronny dan Rahmat pun didakwa melanggar Pasal 355 ayat (1) atau 353 ayat (2) atau 351 ayat (2) KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

    Kedua terdakwa enggan mengajukan keberatan atau eksepsi. Dengan demikian, agenda sidang berikutnya akan menghadirkan saksi-saksi dari penuntut umum yang digelar pada Kamis, 2 April 2020.



    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id