Eks Sesmenpora Bakal Buka-bukaan Soal Imam Nahrawi

    Fachri Audhia Hafiez - 23 September 2019 19:06 WIB
    Eks Sesmenpora Bakal Buka-bukaan Soal Imam Nahrawi
    Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora) periode 2014-2016, Alfitra Salam. Foto: ANT/Indrianto Eko Suwarso
    Jakarta: Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora) periode 2014-2016, Alfitra Salam, akan membeberkan peran mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi di persidangan. Imam diduga meminta Rp5 miliar pada Alfitra.

    "Nanti dilihat di pengadilan saja," kata Alfitra di Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jalan Kuningan Persada, Setiabudi, Jakarta Selatan, Senin, 23 September 2019.

    Alfitra diperiksa sebagai saksi untuk tersangka asisten pribadi Imam Nahrawi, Miftahul Ulum. Ia diperiksa dalam perkara dugaan suap dana hibah Kemenpora kepada Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) pusat tahun 2018.

    Dia mengaku dicecar mengenai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) terkait kasus Imam yang bergulir pada 2018. Ia membantah terlibat.  

    "Saya Sesmenpora sampai 2016. Jadi saya enggak ada kaitan sama pokok perkara," ujar Alfitra.

    Sekretaris Jenderal (Sekjen) KONI Ending Fuad Hamidy mengaku mendengar Alfitra mengeluh saat menjabat sebagai Sesmenpora. Ending menyampaikan hal itu saat diperiksa sebagai saksi untuk terdakwa Bendahara Umum KONI Jhonny E Awuy.

    Ending mengatakan, Alfitra diminta menyiapkan uang Rp5 miliar oleh Imam Nahrawi. Alfitra sempat meminjam uang kepada Ending. Namun, Ending tak dapat menyanggupi permintaan Alfitra.

    Miftahul Ulum ditetapkan sebagai tersangka  bersama Imam Nahrawi. Imam diduga menerima suap dan gratifikasi Rp26,5 miliar melalui Ulum.

    Pemberian uang itu sebagai komitmen fee atas pengurusan proposal hibah yang diajukan pihak KONI kepada Kemenpora tahun anggaran 2018. Imam menerima suap dan gratifikasi itu sebagai Ketua Dewan Pengarah Satlak Prima dan Menpora.

    Penetapan tersangka Imam merupakan hasil pengembangan dari perkara sebelumnya yang menjerat lima orang. Mereka yakni, Sekretaris Jenderal KONI Ending Fuad Hamidy, Bendahara Umum KONI Jhonny E Awuy, dan Deputi IV Kemenpora Mulyana.

    Kemudian, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada Kemenpora Adhi Pumamo dan Staf Kemenpora Eko Tryanto. Kelima orang itu telah mejalani sidang dan divonis bersalah di pengadilan tingkat pertama.

    Miftahul dan Imam dijerat dengan Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 12 B atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.



    (REN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id