Maria Pauline Paksa Dirut PT Metranta Teken Sejumlah Dokumen

    Siti Yona Hukmana - 28 Juli 2020 15:28 WIB
    Maria Pauline Paksa Dirut PT Metranta Teken Sejumlah Dokumen
    Buronan pelaku pembobolan Bank BNI Maria Pauline Lumowa (tengah)/Antara/Aditya Pradana Putra.
    Jakarta: Polisi selesai memeriksa terpidana pembobol dana BNI, Richard Kountul (RK) untuk mengungkap peran tersangka Maria Pauline Lumowa (MPL). Dari pemeriksaan itu, polisi menemukan sejumlah fakta baru.

    "Saksi atas nama RK selaku Direktur PT Metranta (PT MT) telah menandatangani sejumlah dokumen untuk MPL," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa, 28 Juli 2020. 

    Dalam pemeriksaan, Richard juga mengaku telah mencairkan letter of credit (L/C) senilai 4.830 ribu euro yang dikonversikan ke US$ pada 13 Juli 2003. Lalu, mentransfer uang tersebut ke dua perusahaan, yaitu PT APB dan PT OMI atas perintah Maria selaku pemilik perusahaan.

    Baca: Terpidana Pembobol BNI Ingin Lawan Maria Pauline di Persidangan
     
    "MPL ini merupakan pemilik perusahaan dengan kepemilikan saham melalui saudara kandung dan orang-orang kepercayaannya," ujar Awi.

    Maria, kata Awi, bertindak selaku pengambil keputusan dalam grup Gramarindo yang membawahkan PT MT dan tujuh perusahaan lain. "Grup Gramarindo sendiri telah mengajukan 40 slip LC ke Bank BNI senilai US$76,943 juta, kemudian 56.114.446.50 euro," ucap Awi.

    Awi menuturkan, 40 slip L/C ke Bank BNI itu tersebar di delapan perusahaan. Berikut rinciannya;

    1. PT TCP ada lima LC
    2. PT FK ada 2 LC
    3. PT MUEI ada 9 LC
    4. PT GMI ada 8 LC
    5. PT BNK ada 7 LC
    6. PT BSM ada 6 LC
    7. PT FM ada 2 LC
    8. PT MT ada 1 LC

    Awi mengatakan, pihaknya akan melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap Richard. Dia akan dicecar terkait penunjukan sebagai Direktur PT MT.

    "Kemudian mengonfirmasi surat pernyataan serta memeperdalam peran tersangka (Maria)," tutup Awi.

    Maria merupakan salah satu tersangka pembobol Bank BNI melalui L/C fiktif yang terjadi pada 2003. Negara dirugikan Rp1,7 triliun atas perbuatannya.

    Setelah 17 tahun buron, Maria akan menghadapi proses hukum atas dugaan melakukan pelanggaran terhadap Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi. Ancaman hukumannya maksimal pidana penjara seumur hidup. 

    Teranyar, polisi juga mengenakan Maria Pasal 3 ayat 1 Undang-Undang Nomor 25 tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Aset-aset warga Belanda itu bakal ditelusuri.

    (ADN)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id