Dua Agen Kapal Diduga Pelaku Perdagangan Orang Ditangkap

    Siti Yona Hukmana - 16 Juni 2020 11:12 WIB
    Dua Agen Kapal Diduga Pelaku Perdagangan Orang Ditangkap
    Ilustrasi/Medcom.id
    Jakarta: HA alias A dan MHY alias D, terduga pelaku tindak pidana perdagangan orang (TPPO) ditangkap polisi. Mereka adalah rekan SF yang lebih dahulu diringkus. 

    "Tersangka HA alias A dan MHY alias D ini kita dapati setelah pengembangan dari penangkapan pelaku sebelumnya," kata Kabid Humas Polda Kepulauan Riau, Kombes Harry Goldenhardt, dalam keterangannya, Selasa, 16 Juni 2020. 

    Ketiganya adalah perantara warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja sebagai anak buah kapal (ABK) Lu Qing Yuan Yu 901. Harry menuturkan HA alias A ditangkap di Jakarta Utara pada 12 Juni 2020. Sedangkan MHY alias D ditangkap pada 13 Juni 2020 di Kelurahan Pejuang, Bekasi Barat.

    "Dari hasil interogasi bahwa ada peran dari tersangka lainnya dalam pembuatan dokumen berupa sertifikat Basic Safety Training (BST) bagi ABK Kapal," ujar Harry.

    Pengurusan BST dilakukan empat tersangka yang telah ditahan di Polres Metro Jakarta Utara. Para pelaku berinisial DT, RAS, SY, dan ST memalsukan dokumen BST.

    Pengungkapan kasus dugaan TTPO ini berawal dari penemuan dua ABK, Reynalfi, 22 dan Andri Juniansyah, 30 yang terapung di perairan Kabupaten Karimun pada 7 Juni 2020. Mereka ditolong seorang nelayan bernama Azhar.

    Korban dibawa ke darat dan diselamatkan. Harry menyebut dua korban melompat dari kapal Lu Qing Yuan Yu 901 dan terapung selama tujuh jam hingga ditemukan di perairan Kabupaten Karimun.

    Kedua ABK itu mengaku menjadi korban TPPO di kapal berbendera Tiongkok. Mereka mengaku mendapatkan perlakuan tidak manusiawi saat bekerja di kapal tersebut. 

    Berbekal informasi kedua korban, polisi menangkap tersangka pertama berinisial SF. Agen kapal ini diringkus di kediamannya daerah Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada 11 Juni 2020 sekitar pukul 00.30 WIB.

    Baca: Agen Kapal Diduga Pelaku Perdagangan Orang Ditangkap

    Harry menyebut ketiga tersangka SF, HA alias A dan MHY alias D merekrut pekerja migran Indonesia (PMI) dengan iming-iming gaji besar sebagai buruh pabrik di Korea Selatan. Mereka dijanjikan mendapat gaji Rp25 juta hingga Rp50 juta per bulan dengan syarat membayar biaya pengurusan Rp50 juta per orang. 

    "Namun pada kenyataannya para korban dipekerjakan sebagai ABK di kapal penangkap ikan/cumi Lu Qing Yuan Yu 901 yang berbendera Tiongkok tanpa mendapatkan gaji selama kurang lebih 4 sampai 7 bulan," beber Harry.

    Harry menyebut pihaknya telah menelusuri dan menyelidiki kasus dugaan TPPO itu. Pengurusan dan pemberangkatan korban untuk bekerja sebagai ABK kapal berbendera Tiongkok itu dilakukan oleh PT. Mandiri Tunggal Bahari.

    "Direktur dan Komisaris PT tersebut telah resmi ditahan oleh Ditreskrimum Polda Jawa Tengah pada kasus perekrutan dan penempatan PMI tanpa izin atau ilegal pada 18 Mei 2020 lalu," ujar Harry.

    Polisi menyita sejumlah barang bukti dari penangkapan HA alias A dan MHY alias D. Rinciannya, beberapa lembar buku tabungan, kartu ATM, sertifikat Basic Safety Training (BST) palsu, dan 4 unit handphone berbagai merek. 

    Para tersangka dijerat Pasal 2, Pasal 4 dan Pasal 10 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

    "Dengan ancaman paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp600 juta," ujar Harry. 

    (ADN)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id