Penyebar Potongan Video Robertus Robet Diminta Ditelusuri

    Damar Iradat - 07 Maret 2019 16:55 WIB
    Penyebar Potongan Video Robertus Robet Diminta Ditelusuri
    Ketua Asosiasi Program Studi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi Indonesia (APPSANTI) Ubedillah Badrun - Medcom.id/Faisal Abdalla.
    Jakarta: Ketua Asosiasi Program Studi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi Indonesia (APPSANTI) Ubedillah Badrun meminta polisi menelusuri penyebar pemotong video orasi Robertus Robet. Dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu harus berurusan dengan kepolisian karena dianggap menghina TNI.

    Robet ditangkap kepolisian setelah potongan video orasinya dalam aksi Kamisan beberapa waktu lalu yang menyanyikan Mars ABRI diplesetkan menjadi viral di media sosial. Ia kemudian dilaporkan atas sangkaan penghinaan kepada lembaga negara.

    "Yang perlu ditelusuri yang menyebarkan penggalan nyanyian Robet dan dipotong," kata Ubedillah saat ditemui di Gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Menteng, Jakarta, Kamis, 7 Maret 2019.

    Menurut Ubedillah, Robet tidak berniat menghina TNI. Bahkan, dalam video utuhnya, sebelum bernyanyi, Robet juga menyisipkan argumen rasional terhadap TNI.

    Ubedillah melanjutkan, orasi Robet itu sekadar mengingatkan agar dwifungsi tentara tidak lagi hadir di Indonesia. Sebab, menurut dia, apa yang dikemukakan Robet juga menjadi perhatian para aktivis 98 dan akademisi.

    "Sebetulnya kami sejak 1998 menolak dwifungsi ABRI, karena itu bertentangan dengan prinsip demokrasi. Karena prinsip demokrasi itu supremasi sipil," tutur dia.

    (Baca juga: Tuntutan Hukum Terhadap Robertus Robet Diminta Dihapus)

    Oleh karena itu, wacana pemerintah yang akan memasukan puluhan perwira tinggi (Pati) TNI ke dalam jabatan sipil itu ditentang oleh banyak pihak. Pasalnya, menurut Ubedillah, tentara merupakan institusi yang berkepentingan mempertahankan negara dan diberi wewenang memegang senjata.

    "Ketika yang pegang senjata masuk sipil, itu bahaya bagi demokrasi," tegas Ubedillah.

    Robertus Robet ditangkap di rumahnya. Ia dibawa ke Mabes Polri atas tuduhan melanggar Undang-undang ITE terkait orasi dalam aksi damai Kamisan, 28 Februari lalu.

    Robet disangka melanggar Pasal 45 ayat (2) Jo pasal 28 ayat (2) Undang-undang Nomor 19 tahun 2016 tentang Perubahan atas Undnag-undang Nomor 11 tahun 2009 tentang ITE dan atau Pasal 14 ayat (2) jo Pasal 15 Undang-undang Nomor 1 tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan/atau Pasal 207 KUHP.

    Namun, kepolisian sudah memulangkan Robet. Tersangka kasus penghinaan terhadap TNI itu dipulangkan usai diperiksa selama hampir 14 jam.

    Karopenmas Divisi Humas Polisi Brigjen Dedi Prasetyo menyebut pemeriksaan terhadap Robet telah selesai. Namun, proses penyidikan oleh Direktorat Siber Bareskirm Mabes Polri atas kasus ini masih akan berlanjut.





    (REN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id