comscore

Muncul Istilah Ring 1 di Perkara Terbit Perangin Angin

Fachri Audhia Hafiez - 06 Juli 2022 18:37 WIB
Muncul Istilah Ring 1 di Perkara Terbit Perangin Angin
Persidangan Bupati nonaktif Langkat Terbit Rencana Perangin Angin. Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez
Jakarta: Persidangan dugaan korupsi yang menjerat Bupati nonaktif Langkat Terbit Rencana Perangin Angin mengungkap istilah Ring 1. Istilah ini disebut dalam pemeriksaan saksi aparatur sipil negara (ASN) pada bagian Unit Kerja Pengadaan Barang dan Jasa (UKPBJ) Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Langkat, Firdaus.

Awalnya, jaksa penuntut umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membacakan berita acara pemeriksaan (BAP) Firdaus. BAP itu terkait kontraktor Shuhanda Citra yang marah ke Firdaus lantaran proyek milik Terbit kalah dalam proses lelang.
"Kondisi saudara Citra yang marah karena menurut saudara Citra ada pekerjaan milik Bupati atau Ring 1 yang kalah," kata salah satu JPU saat membacakan BAP Firdaus di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta Pusat, Rabu, 6 Juli 2022.

Menurut jaksa, Firdaus yang tergabung dalam Pokja 4 di Kabupaten Langkat tidak nyaman. Dia dan tim merasa tertekan karena takut dengan Shuhanda.

"Takut terintimidasi karena kami takut dengan orang yang berada di belakang saudara Citra dan Marcos Surya Abdi, yaitu Terbit dan Iskandar Perangin Angin (kakak kandung Terbit)," kata jaksa.

Jaksa menanyakan maksud dari Ring 1. Menurut Firdaus, hal itu mengarah pada Terbit dan orang-orang di Grup Kuala.

Grup tersebut berisi Iskandar, Marcos, Shuhanda, serta kontraktor Isfi Syahfitra. Mereka mengupayakan memenangkan perusahaan-perusahaan untuk menggarap proyek di lingkungan Pemerintah Kabupaten Langkat.

"Termasuk (orang-orang Grup Kuala)," ujar Firdaus.
 

Baca: Hakim Semprot Saksi Sidang Terbit Perangin Angin


Terbit Rencana Perangin Angin didakwa menerima suap Rp572 juta dari Direktur CV Nizhami Muara Perangin Angin. Penerimaan uang itu dilakukan bersama kakak Terbit sekaligus Kepala Desa Balai Kasih Iskandar Perangin Angin.

Penerimaan uang itu juga dibantu tiga kontraktor, yakni Marcos Surya Abdi, Shuhanda Citra, dan Isfi Syahfitra. Ketiganya juga sudah menjalani persidangan dengan surat dakwaan yang terpisah dari Terbit dan Iskandar.

Penerimaan uang itu terjadi sekitar Juli 2021-18 Januari 2022. Uang suap dimaksud agar Terbit memberikan paket pengerjaan ke beberapa perusahaan Muara.

Terbit diduga mengatur proses pengadaan di unit kerja pengadaan barang dan jasa sekretariat daerah Kabupaten Langkat usai mendapatkan uang dari Muara. Permainan kotor itu dilakukan agar perusahaan Muara mendapatkan paket pekerjaan di Dinas PUPR Langkah dan Dinas Pendidikan Langkat pada 2021.

Terbit dan Iskandar didakwa melanggar Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

(JMS)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id