Deputi Kemenpora Dituntut Tujuh Tahun Bui

    Fachri Audhia Hafiez - 15 Agustus 2019 18:47 WIB
    Deputi Kemenpora Dituntut Tujuh Tahun Bui
    Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Mulyana. Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez
    Jakarta: Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Mulyana, dituntut tujuh tahun penjara serta denda Rp200 juta subsider tiga bulan kurungan. Ia dinilai terbukti menerima suap dalam kasus dugaan korupsi dana hibah Kemenpora.

    "Menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan berlanjut," kata Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Ronald Worotikan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis, 15 Agustus 2019.

    Dalam pertimbangannya, perbuatan Mulyana dianggap tidak mendukung pemerintah dalam upaya pemberantasan korupsi. Hal yang meringankan, Mulyana bersikap sopan, belum pernah dihukum, bersikap kooperatif, masih ada tanggungan keluarga, dan sudah mengembalikan seluruh pemberian.

    Mulyana disebut menerima suap dari Sekretaris Jenderal (Sekjen) Komite Nasional Olahraga Indonesia (KONI) Ending Fuad Hamidy dan Bendahara Umum KONI Johny E Awuy. Suap itu untuk mempercepat proses persetujuan dan pencairan bantuan dana hibah yang diajukan KONI Pusat kepada Kemenpora pada tahun kegiatan 2018.

    Pengajuan dana itu termuat dalam proposal dukungan KONI pusat dalam rangka pengawasan, dan pendampingan seleksi calon atlet dan pelatih atlet berprestasi tahun kegiatan 2018. Kedua, proposal bantuan dana hibah kepada Kemenpora dalam rangka pelaksanaan tugas pengawasan dan pendampingan program peningkatan prestasi olahraga nasional pada multi event Asian Games dan Asian Para Games 2018.

    Nilai proposal pertama disetujui oleh Kemenpora sebesar Rp30 miliar, dan proposal kedua Rp17,971 miliar.

    Namun, pada proses pengajuan itu ada kesepakatan pemberian komitmen fee dari KONI Pusat kepada pihak Kemenpora. Pemberian fee ini sesuai arahan Miftahul Ulum, asisten pribadi Menpora Imam Nahrawi kepada Ending dan Johny.

    Johny dan Ending memberikan hadiah berupa satu unit Mobil Fortuner VRZ TRD warna hitam metalik dengan nomor polisi B 1749 ZJB kepada Mulyana. Selain itu, Mulyana menerima uang sebesar Rp300 juta.

    Kemudian, satu buah kartu ATM Debit BNI nomor 5371 7606 3014 6404 dengan saldo Rp100 juta dan satu buah handphone merek Samsung Galaxy Note 9.

    Atas perbuatannya, Mulyana diyakini melanggar Pasal 12 huruf a Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.

    Mulyana akan mengajukan nota pembelaan atau pleidoi pada 29 Agustus 2019.




    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id