Bos Paranayo Jaya Utama Diperiksa di Kasus IPDN

    Juven Martua Sitompul - 24 Juni 2019 11:25 WIB
    Bos Paranayo Jaya Utama Diperiksa di Kasus IPDN
    Ilustrasi KPK - MI.
    Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadwalkan pemeriksaan terhadap Direktur PT Paranayo Jaya Utama, Bertina Panjaitan. Dia akan diperiksa sebagai saksi terkait kasus dugaan korupsi pembangunan gedung Kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

    "Yang bersangkutan akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka DPO (Kepala Divisi Konstruksi VI PT Adhi Karya, Dono Purwoko)," kata juru bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jakarta, Senin, 24 Juni 2019.

    Penyidik juga memanggil Arsitek PT Bita Enarcon Engineering, Torret Koesbiantoro. Dia akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka yang sama.

    KPK terus mengusut kasus dugaan korupsi IPDN. Salah satu yang tengah didalami adalah peran dua korporasi PT Adhi Karya dan PT Waskita Karya selaku penggarap proyek pembangunan gedung IPDN.

    Kuat dugaan kedua korporasi ini ikut terlibat dalam skandal pembangunan IPDN. Untuk memperkuat dugaan itu, penyidik sudah menggeledah kantor PT Adhi Karya dan PT Waskita Karya di Jakarta.

    Sejumlah dokumen dan bukti elektronik disita tim dari kedua lokasi tersebut. Dokumen dan bukti elektronik itu tengah dipelajari lebih lanjut.

    (Baca juga: KPK Sita Dokumen Proyek IPDN dari Waskita Karya)

    Teranyar, penyidik juga menyita sejumlah dokumen dari staf Keuangan dan Sumber Daya Manusia PT Waskita Karya Setiadi Pratama dan staf PT Kakanta Andi Sastrawan, yang menjadi pelaksana lapangan proyek IPDN Gowa. Dokumen itu diduga berkaitan dengan kasus tersebut.

    Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Sekretariat Jenderal Kementerian Dalam Negeri
    Dudy Jocom ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus dugaan korupsi pembangunan empat kampus IPDN di Sulawesi Selatan dan kampus IPDN di Sulawesi Utara. KPK juga menetapkan dua tersangka lain yakni Kepala Divisi Gedung atau Kepala Divisi I PT Waskita Karya, Adi Wibowo dan Kepala Divisi Konstruksi VI PT Adhi Karya, Dono Purwoko.

    Dalam kasus ini, Dudy Jocom melalui kenalannya diduga menghubungi beberapa kontraktor untuk menginformasikan adanya proyek IPDN. Selanjutnya, para pihak itu menggelar pertemuan di sebuah kafe di Jakarta.

    Dari pertemuan itu, disepakati adanya pembagian proyek. Proyek IPDN di Sulawesi Selatan digarap Waskita Karya sementara PT Adhi Karya menggarap proyek IPDN di Sulawesi Utara. Dudy Jocom Cs diduga meminta fee 7 persen dari setiap proyek itu.

    Negara diduga mengalami kerugian sekitar Rp21 miliar akibat kasus ini. Nilai kerugian itu berdasarkan kekurangan pekerjaan pada kedua proyek tersebut, untuk proyek IPDNdi Sulawesi Selatan negara merugi Rp11,18 Miliar, dan Rp9,378 miliar untuk proyek kampus IPDN di Sulawesi Utara.

    Dudy Jocom, Adi Wibowo dan Dono Purwoko disangkakan melanggar Pasal 2 Ayat 1 atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.



    (REN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id