• DOMPET KEMANUSIAAN LOMBOK : Tanggal 22 SEP 2018 terkumpul RP 20.111.547.901

Buronan Kejaksaan tak akan Hidup Tenang

Ilham wibowo - 12 Juli 2018 14:18 wib
Jaksa Agung M Prasetyo di pekan olahraga Hari Bhakti Adhyaksa
Jaksa Agung M Prasetyo di pekan olahraga Hari Bhakti Adhyaksa ke-58. Foto: Medcom.id/Ilham Wibowo.

Jakarta: Penjahat yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) Kejaksaan Agung (Kejagung) tak akan dibiarkan hidup tenang. Meski bertahun-tahun kabur, para buronan bakal diproses hukum. 

Jaksa Agung HM Prasetyo mencontohkan nasib koruptor kasus proyek Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) Thamrin Tanjung. Ia disergap intelijen Kejagung saat makan di Cilandak Town Square (Citos), Jakarta Selatan, Selasa malam, 9 Juli 2018. 

"Saya berikan apresiasi, itu perkara diputus sejak tahun 2001 ya. Ada dua orang terpidana, satu meninggal dan yang ini baru ketangkap kemarin," kata Jaksa Agung HM Prasetyo di Kompleks Kejagung, Kamis, 12 Juli 2018. 

Prasetyo memastikan bakal menangkap buronan lainnya ikut terlibat. Ia pun tak akan risau dengan tudingan yang menganggap Kejaksaan Agung lemah terhadap buronan. 

"Jadi kalau ada pihak yang masih bersikap nyinyir silakan saja. Kita yang penting jalankan terus. Biar anjing menggonggong kafilah berlalu, kan gitu saja," pungkas dia. 

Sementara itu, Thamrin divonis di tingkat kasasi dengan hasil putusan yang teregistrasi dalam surat nomor 720K/pid/2001 tertanggal 11 Oktober 2001. Thamrin mestinya menjalani hukuman 2 tahun penjara dengan denda Rp25 juta dan uang pengganti Rp8 miliar. 

Keberadaan Thamrin terus dipantau intelijen Kejaksaan Agung. Penangkapan dilakukan saat menemukan momentum yang tepat. "Begitu lihainya mereka. Kita lihat sekarang satu bukti bahwa kita tidak pernah mendiamkan (buronan)," ujar dia. 

Baca: Pemangkasan Anggaran tak Ganggu Kinerja Kejagung

Thamrin Tanjung adalah terpidana dalam kasus tindak pidana korupsi dalam penerbitan CP-MTN PT Hutama Karya dengan nilai Rp1,05 triliun dan US$471 juta. Pada 1998, PT Jasa Marga mengambil alih aset yang sebelumnya merupakan barang sitaan negara atas ketidakmampuan oknum melunasi utang untuk pembangunan jalan tol kepada BNI.

Pihak yang berutang adalah PT Marga Nurindo Bhakti (MNB) dengan mengambil kredit dari BNI senilai Rp2,5 triliun. Pada kenyataannya dari pinjaman sebesar itu, hanya Rp1 triliun untuk pembangunan tol, sisanya tidak diketahui.

PT MNB tidak bisa mengembalikan uang pinjaman itu hingga tol disita dan diambil alih Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). BPPN mengembalikan proyek tersebut kepada negara, dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum dan Jasa Marga pada 1998.


(OGI)


BACA JUGA
BERITA LAINNYA

Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.