Istri dan Anak Nurhadi Kembali Mangkir

    Candra Yuri Nuralam - 24 Februari 2020 21:29 WIB
    Istri dan Anak Nurhadi Kembali Mangkir
    Pelaksana tugas juru bicara KPK Ali Fikri. Medcom.id/Arga Sumantri
    Jakarta: Istri eks Sekretaris Mahkamah Agung, Nurhadi, Tin Zuraida, dan anaknya, Rizqi Aulia Rahmi kembali mangkir dari pemanggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Keduanya tak memberikan alasan atas ketidakhadirannya.

    "Ini panggilan yang kedua, otomatis yang berikutnya nanti penyidik akan melakukan tindakan lain sesuai dengan ketentuan di hukum acara," kata pelaksana tugas (Plt) juru bicara KPK Ali Fikri di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Senin, 24 Februari 2020.

    Istri Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal Hiendra Soenjoto, Lusi Indriati juga mangkir dalam pemanggilan keduanya. KPK akan kembali memanggil ketiganya berdasarkan hukum yang berlaku.

    Istri dan Anak Nurhadi Kembali Mangkir
    Eks Sekretaris MA Nurhadi. MI/Rommy Pujianto

    Ali mengimbau ketiganya bersikap kooperatif. KPK menunggu kehadiran mereka untuk dimintai keterangan.

    "Kami tetap berharap agar saksi ini tetap kooperatif ya, kami menunggu tetap kehadiran dari para saksi sebelum penyidik bertindak sesuai dengan hukum acara yang berlaku," ujar Ali.

    Ali membantah surat pemanggilan tidak diterima para saksi. "Perlu kami garis bawahi surat panggilan kepada para saksi telah kami layangkan secara patut dan semua dokumentasinya penyidik telah memiliki," tutur Ali.

    Baca: Surat Pemanggilan KPK Sampai ke Istri Nurhadi

    Tin, Rizqi, dan Lusi dipanggil untuk diperiksa terkait kasus dugaan suap dan gratifikasi pada pengadaan perkara di Mahkamah Agung. Keduanya akan bersaksi untuk tersangka Hiendra.

    KPK sudah menetapkan tiga tersangka dalam kasus dugaan suap dan gratifikasi pada pengadaan perkara di Mahkamah Agung. Mereka yakni Nurhadi, menantu Nurhadi, Rezky Herbiono, dan Hiendra.

    Nurhadi diduga menerima suap Rp33,1 miliar dari Hiendra lewat Rezky. Suap dimaksudkan untuk memenangkan Hiendra dalam perkara perdata kepemilikan saham PT MIT. Nurhadi juga diduga menerima sembilan lembar cek dari Hiendra terkait peninjauan kembali (PK) perkara di MA.

    Pada kasus gratifikasi, Nurhadi diduga mengantongi Rp12,9 miliar dalam kurun waktu Oktober 2014-Agustus 2016. Gratifikasi diduga terkait pengurusan perkara sengketa tanah di tingkat kasasi dan PK di MA, juga permohonan perwalian.

    Sebagai penerima, Nurhadi dan Rezky disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b subsider Pasal 5 ayat (2) lebih subsider Pasal 11 dan/atau Pasal 12B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

    Sementara itu, Hiendra disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b subsider Pasal 13 Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP.




    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id