BNPT: Virus Radikal Jangan Didiamkan, Nanti Jadi Terorisme Sulit Diobati

    Antara - 18 Oktober 2021 06:29 WIB
    BNPT: Virus Radikal Jangan Didiamkan, Nanti Jadi Terorisme Sulit Diobati
    Ilustrasi: Medcom.id



    Jakarta: Direktur Pencegahan Badan Nasional Terorisme (BNPT) Brigadir Jenderal (Brigjen) R Ahmad Nurwakhid mendorong semua pihak aktif mencegah penyebaran radikalisme. Pasalnya, ideologi radikal menjadi benih-benih munculnya terorisme

    Nurwakhid mengapresiasi Kepala Desa Sidodadi Asri, Lampung Selatan, Didik Marhadi, yang telah melaporkan adanya 30 anak muda di desanya terpapar ideologi Negara Islam Indonesia (NII). Dia meminta pihak lain tidak takut melaporkan seperti Didik.

     



    “Kalau di desanya ada radikalisasi, bukan berarti perangkat desa lemah. Ini virus radikalisme yang bisa menyerang siapa saja. Justru kalau didiamkan nanti bisa meledak atau naik level jadi terorisme. Kalau itu tidak bisa ditolong lagi, otomatis bisa menimbulkan kegaduhan dan teror,” kata Ahmad Nurwakhid dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu, 17 Oktober 2021.

    Mantan Kepala Bagian Operasional (Kabagops) Detasemen Khusus (Densus) 88 itu mengungkapkan NII memang sudah dilarang, tetapi belum ada regulasi yang melarang ideologi takfiri mereka. Hal ini sama seperi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), tetapi ideologi khilafah mereka masih terus tersebar.

    Baca: DPO Teroris Poso Terdeteksi 'Kirim Sinyal' dari Hutan Lembah Napu

    Menurut dia, sejauh ini ideologi yang dilarang di Indonesia baru komunisme, marxisme, dan leninisme. Hal ini tercantum pada Ketetapan (Tap) MPRS Nomor 25 Tahun 1966 dan Undang-Undang (UU) Nomor 27 Tahun 1999 tentang Perubahan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang Berkaitan dengan Kejahatan Terhadap Keamanan Negara.

    Ideologi lain yang relevan mengancam Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),  belum dilarang, seperti khilafahisme, daulahisme, liberalisme, kapitalisme, dan sekulerisme. Hal ini membuat aparat penegak hukum tidak pasti dalam bersikap.

    “Misalnya kasus 56 anak muda di Garut dan 30 orang di Sidodadi Asri ini. Proses hukum tidak akan bisa, polisi paling memanggil untuk diishlahkan. Bagi perekrutnya juga tidak bisa dilakukan proses hukum ini jadi permasalahan kita bersama,” ungkap dia.

    Dia mengakui UU Nomor 5 Tahun 2018 tentang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme sudah bagus, tetapi belum maksimal. UU ini menjadi dasar polisi menindak orang yang masuk jaringan terorisme dan berpotensi melaksanakan teror.

    Sejak UU Nomor 5 Tahun 2018 berlaku, Densus 88 mencegah lebih dari 1.350 aksi teroris. UU ini mampu mereduksi tingkat keterpaparan masyarakat dari radikalisme yang berada di puncaknya pada 2017, yakni 55 persen, menjadi 38 persen di 2019, dan 12,2 persen dari 270 juta penduduk Indonesia di 2020.

    “Memang itu tidak sedikit. Harapan kami 12,2 persen itu kalau nanti negara melarang ideologi yang melarang semua ideologi yang bertentangan dengan Pancasila, khususnya khilafah. Itu akan meminimalisir radikailsme,” kata Nurwakhid.

    BNPT akan menindaklanjuti temuan-temuan keterpaparan masyarakat dari radikalisme, khususnya NII di Garut dan Lampung Selatan, bersama lembaga-lembaga terkait. BNPT terus menyosialisasikan masalah ini langsung kepada masyarakat.

    Sementara itu, Kades Sidodadi Asri Didik Marhadi bercerita mendapatkan indikasi warganya terpapar NII dari orang-orang yang telah sadar dari kelompok tersebut Dia kemudian berkoordinasi mengawasi anak-anak muda yang terpapar. Bahkan, sudah ada yang akhirnya sadar dan keluar dari NII.

    “Yang sudah terdeteksi 30 orang, tetapi sepertinya lebih banyak lagi sehingga kami butuh bantuan dari lembaga terkait, seperti BNPT dan pemerintah daerah untuk mengatasi masalah ini,” kata Didik.

    Pihaknya juga minta bantuan NII Crisis Center. Pasalnya, anak-anak yang terpapar itu masih di masyarakat dan tingkah lakunya masih normal. Saat ini, perangkat desa Sidodadi Asri terus mengawasi dan mempersempit ruang gerak mereka.

    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id