comscore

Ini Perbedaan Penanganan Korupsi Garuda di Kejagung dan KPK

Siti Yona Hukmana - 28 Juni 2022 09:32 WIB
Ini Perbedaan Penanganan Korupsi Garuda di Kejagung dan KPK
Mantan Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar. MI/Susanto
Jakarta: Kejaksaan Agung (Kejagung) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sama-sama menangani kasus korupsi pengadaan pesawat pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk pada 2011-2021. Namun, penanganan oleh kedua instansi penegak hukum itu berbeda. 

"Kalau untuk perkara Garuda, suap ada di KPK. Kemudian, kita (Kejagung) menyidik Pasal 2 dan 3 (UU Tindak Pidana Korupsi). Ada perbuatan melawan hukum yang menimbulkan kerugian keuangan negara," kata Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung Febrie Adriansyah, Selasa, 28 Juni 2022.
Febrie mengatakan terkait objek penyidikannya pun ada perluasan. Sehingga, kerugian negara dari objek yang disidik Kejaksaan menyeluruh. 

Menurut dia, itu salah satu pertimbangan Kejagung selalu maju dalam menyidik kasus korupsi pengadaan pesawat di perusahaan pelat merah tersebut. Di samping itu, dia juga memastikan tak ada penerapan asas ne bis in idem terhadap dua tersangka baru.

Yakni mantan Direktur Utama (Dirut) PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar dan mantan Direktur PT Mugi Rekso Abadi,  Soetikno Soedarjo. Meski keduanya telah menjadi terpidana perkara suap dan pencucian uang pengadaan pesawat serta mesin pesawat di PT Garuda yang ditangani KPK. 

"Itu ada objek yang berbeda. Ada konstruksi perbuatan yang berbeda," jelas dia. 
 

Baca: Emirsyah Satar dan Soetikno Jadi Tersangka Korupsi Pengadaan Pesawat Garuda Indonesia


Sementara itu, terkait tindak pidana pencucian uang (TPPU) dalam proses pendalaman. Pihaknya akan menelusuri TPPU setelah menyelesaikan sosok yang bertanggung terhadap kejahatan yang menimbulkan kerugian keuangan negara. 

"Siapa yang akan mempertanggungjawabkan kerugian negara. Kemudian, nanti baru kita masuk ekspose untuk TPPU," kata dia. 

Emirsyah dan Soetiko ditetapkan tersangka oleh Kejagung pada Senin, 27 Juni 2022. Mereka dijerat Primer Pasal 2 ayat (1) Jo. Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. 

Kemudian, Subsider Pasal 3 Jo. Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sementara itu, tiga orang yang lebih dahulu jadi tersangka di Kejagung adalah Vice President Strategic Management Office Garuda periode 2011-2012 Setijo Awibowo; Executive Project Manager Aircraft Delivery Garuda periode 2009-2014 Captain Agus Wahjudo; dan Vice President Treasury Management Garuda periode 2005-2012 Albert Burhan. Jampidsus Kejagung menyidik dugaan korupsi terkait pengadaan pesawat Bombardier CRJ1000 dan ATR 72-600.

Sedangkan, KPK telah menyeret tiga orang ke pengadilan dalam kasus ini. Mereka adalah Emirsyah Satar; Beneficial Owner Connaught International PTE Ltd, Soetikno Soedarjo; dan mantan Direktur Teknik dan Pengelolaan Armada Garuda Hadinoto Soedigno yang meninggal pada Desember 2021.

Ketiganya terbukti bersalah di pengadilan melakukan pemberian dan penerimaan suap serta tindak pidana pencucian uang. Penyidikan yang dilakukan KPK terkait pengadaan mesin pesawat dan perawatan Rolls-Royce RR Trent 700 series, pesawat Airbus, Bombardier CRJ1000, dan ATR 72-600.

(LDS)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id