Kronologi OTT Suap Komisioner KPU

    Arga sumantri - 09 Januari 2020 21:35 WIB
    Kronologi OTT Suap Komisioner KPU
    Komisioner KPU Wahyu Setiawan. Foto: MI/ Rommy Pudjianto
    Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Wahyu Setiawan sebagai tersangka suap. Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) itu diduga menerima duit pelicin terkait proses pergantian antar waktu (PAW) anggota DPR periode 2019-2024. 

    Wakil Ketua KPK Lili Pintauli menjelaskan kronologi OTT yang melibatkan pejabat penyelenggara pemilu itu. Mulanya, KPK menerima informasi adanya transaksi dugaan permintaan uang dari Wahyu kepada Agustiani Tio Fridelina (ATF). 

    Agustiani merupakan mantan anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sekaligus orang kepercayaan Wahyu. KPK lalu menangkap Wahyu di Bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul 12.55 WIB. Ketika itu, Wahyu sedang bersama asistennya, Rahmat Tonidaya. 

    "Kemudian secara paralel, tim terpisah KPK mengamankan ATF di rumah pribadinya di Depok pada pukul 13.14 WIB," kata Lili di Gedung KPK Jakarta Selatan, Kamis,  9 Januari 2020.

    Dari tangan Agustiani, KPK menyita uang Rp400 juta dalam bentuk dolar Singapura. KPK juga menyita buku rekening diduga terkait perkara.

    Tim KPK lainnya kemudian menangkap seseorang bernama Saeful atau SAE (swasta), Doni (DON) selaku advokat, dan Ilham,  sopir dari Saeful. Mereka ditangkap di sebuah restoran kawasan Sabang, Jakarta Pusat. Kemudian, KPK juga menangkap kerabat Wahyu, Ika Indayani (IDA) dan Wahyu Budiyani (WBU) di rumah pribadinya di Banyumas. 

    "Delapan orang tersebut dibawa ke Gedung Merah Putih KPK untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut," ucap Lili.  

    Dalam kasus ini, Wahyu Setiawan diduga menerima suap dari calon legislatif PDI Perjuangan Harun Masiku guna memuluskan proses PAW. KPK juga telah menetapkan Harun sebagai tersangka pemberi suap.

    KPK pun menetapkan Agustiani sebagai tersangka penerima suap. Satu tersangka lainnya yakni Saeful selaku pemberi suap.

    Atas perbuataannya, Wahyu dan Agustiani selaku penerima suap disangka melanggar Pasal 12 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

    Sementara, Harun dan Saeful selaku pemberi suap disangka melanggar pasal 5 ayat 1 huruf a atau b atau Pasal 13 Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.





    (WHS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id