Duo Neneng Diperiksa Terkait Suap Meikarta

    Fachri Audhia Hafiez - 11 Januari 2019 14:54 WIB
    Duo Neneng Diperiksa Terkait Suap Meikarta
    Ilustrasi KPK - MI.
    Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengagendakan pemeriksaan terhadap dua tersangka kasus dugaan suap izin proyek pembangunan Meikarta di Bekasi, Jawa Barat. Keduanya ialah, Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin dan Kabid Tata Ruang Dinas PUPR Pemerintah Kabupaten Bekasi, Neneng Rahmi.

    "Keduanya diperiksa sebagai tersangka," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jumat, 11 Januari 2019.
    KPK terus mendalami skandal suap Lippo Group. Sejumlah fakta baru terungkap pada proses penyidikan, salah satunya aliran dana suap Meikarta ke sejumlah anggota DPRD Bekasi dan DPRD Jabar.

    Untuk mengungkap itu sejumlah saksi diperiksa. Beberapa hari lalu, KPK memeriksa Mantan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) dan Dirjen Otonomi Daerah (Otda) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Sumarsono (Soni). 

    Sepanjang pemeriksaan, penyidik mencecar pengetahuan Aher tentang aliran dana suap Lippo Group. Selain itu, dia juga diklarifikasi tentang dugaan aliran dana terhadap sejumlah pejabat atau pegawai Pemprov Jabar. Aher juga 'dikorek' soal peran dan kewenangan memuluskan proyek tersebut.

    Sementara, Soni dikonfirmasi terkait pertemuan sejumlah pihak untuk membahas perizinan proyek Meikarta. KPK mensinyalir ada sejumlah pertemuan antara Pemprov Jabar dan Pemkab Bekasi, guna 'melapangkan' izin proyek Meikarta.

    Direktur Operasional Lippo Group Billy Sindoro, CEO Lippo Group James Riady, dan mantan Presiden Direktur PT Lippo Cikarang Tbk Toto Bartholomeus pun telah diperiksa penyidik untuk mengungkap kasus ini lebih terang. Termasuk, Presiden Direktur PT Lippo Karawaci Tbk Ketut Budi Wijaya, Corporate Affairs Siloam Hospital Group Josep Christoper Mailool, Direktur Keuangan PT Lippo Cikarang Tbk Soni, Direktur Keuangan PT Lippo Karawaci Tbk Richard Setiadi dan Direktur Keuangan PT Mahkota Sentosa Utama (PT MSU) Hartono.
     
    (Baca juga: KPK Duga Biaya Pelesiran Anggota DPRD Bekasi dari Korupsi Meikarta)

    Dari pemeriksaan itu, terungkap adanya pertemuan-pertemuan antara petinggi Lippo Group dan Neneng. Salah satunya, James Riady yang mengakui pernah bertemu Neneng dengan alasan silaturahmi persalinan Neneng. Billy Sindoro juga mengaku dua kali bertemu Neneng.
     
    Pertemuan pertama dilakukan untuk memberi selamat atas persalinan Neneng. Sedangkan pada pertemuan kedua, Billy dan Neneng membahas pembangunan Rumah Sakit (RS) Siloam di Meikarta.
     
    Meikarta merupakan salah satu proyek prestisius milik Lippo Group. Penggarap proyek Meikarta ialah PT Mahkota Sentosa Utama, yang merupakan anak usaha dari PT Lippo Cikarang Tbk. Sementara PT Lippo Cikarang Tbk di bawah naungan Lippo Group.
     
    Secara keseluruhan, nilai investasi proyek Meikarta ditaksir mencapai Rp278 triliun. Meikarta menjadi proyek terbesar Lippo Group selama 67 tahun grup bisnis milik Mochtar Riady itu berdiri.
     
    Dalam kasus ini, Billy Sindoro diduga memberikan uang Rp7 miliar kepada Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin dan anak buahnya. Uang itu diduga bagian dari fee yang dijanjikan Rp13 miliar terkait proses pengurusan izin proyek Meikarta.


     



    (REN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id