Ditanya SK Perusahaan, Komisaris Penyedia Bansos Kelimpungan

    Fachri Audhia Hafiez - 03 Juni 2021 00:04 WIB
    Ditanya SK Perusahaan, Komisaris Penyedia Bansos Kelimpungan
    Sidang pemeriksaan saksi kasus korupsi paket bansos sembako dalam rangka penanganan covid-19. Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez



    Jakarta: Komisaris PT Rajawali Parama Indonesia (RPI) Daning Saraswati tak bisa menjawab ketika ditanya soal keabsahan perusahaan tersebut. Korporasi itu terlibat dalam proyek pengadaan bantuan sosial (bansos) sembako covid-19.

    Awalnya Ketua Majelis Hakim Muhammad Damis menanyakan apakah PT RPI sudah memiliki surat keputusan (SK) atas pengesahan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham). Daning sempat terdiam lima detik.

     



    "Saya kurang tahu, yang ngurus itu semua Wan M Guntar (Direktur Utama PT RPI)," ujar Daning saat persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu, 2 Juni 2021.

    Daning kemudian mengubah keterangannya dan mengaku pernah melihat dokumen itu. Hakim Damis kembali mencecar Daning, apakah secara faktual dia mengetahui adanya dokumen pengesahan perusahaan tersebut.

    Hakim Damis menyentil Daning, sebab sebagai komisaris dia tidak tahu terkait dokumen perusahaan. Lagi-lagi Daning terdiam.

    "Baik saudara tidak bisa menjawab," tegas Hakim Damis.

    (Baca: Perusahaan Penyedia Bansos Mesti Serahkan Rp765 Juta Buat Juliari)

    Hakim Damis juga menanyakan perihal kepemilikan saham di PT RPI. Daning dan Guntar masing-masing memiliki saham 50 persen.

    "(Nilai saham) Rp500 juta, Rp250 juta saya dan Guntar Rp250 juta," ujar Daning.

    Hakim Damis melanjutkan apakah nilai saham tersebut benar. Daning menjawab tidak ada ada saham yang masuk ke korporasi.

    Daning diperiksa sebagai saksi untuk terdakwa pejabat pembuat komitmen (PPK) Bansos Kementerian Sosial Matheus Joko Santoso dan Adi Wahyono. Keduanya didakwa bersama-sama mantan Menteri Sosial Juliari P Batubara menerima uang dari penyedia barang untuk pengadaan paket bansos sembako dalam rangka penanganan covid-19.

    Juliari disebut menerima suap secara bertahap. Fulus Rp1,28 miliar diperoleh dari Harry Van Sidabukke.

    Uang tersebut diterima Matheus Joko Santoso dan Adi Wahyono. Berikutnya Juliari menerima Rp1,96 miliar dari Direktur Utama PT Tigapilar Agro Utama, Ardian Iskandar Maddanatja.

    Juliari juga diduga menerima Rp29,25 miliar dari sejumlah pengusaha penyedia bansos sembako. Juliari disebut menerima duit pada periode Mei-Desember 2020.

    (REN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id