Total Polisi Menangkap 3.862 Pedemo UU Ciptaker di Seluruh Indonesia

    Siti Yona Hukmana - 09 Oktober 2020 15:35 WIB
    Total Polisi Menangkap 3.862 Pedemo UU Ciptaker di Seluruh Indonesia
    Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono (tengah). Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo.
    Jakarta: Ribuan orang ditangkap polisi imbas aksi demo penolakan Undang-Undang (UU) Cipta Kerja (Ciptaker) sejak Selasa, 6 Oktober hingga Kamis, 8 Oktober 2020. Mereka yang dicokok tersebar di sejumlah daerah.

    "Totalnya sebanyak 3.862 orang kita amankan," kata Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat, 9 Oktober 2020.

    Polisi telah mengidentifikasi ribuan orang tersebut. Sebanyak 796 orang yang ditangkap merupakan anggota kelompok anarko. Mereka ditangkap jajaran dari Polda Sumatra Selatan, Bengkulu, Lampung, Jawa Timur, Polda Metro Jaya, Sumatra Utara, dan Kalimantan Barat.

    "Masyarakat umum sebanyak 601 tersebar di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Polda Metro Jaya," ujar jenderal bintang dua itu.

    Polisi juga menangkap 1.548 pelajar dari aksi demo tersebut. Penangkapan dilakukan Polda Sulawesi Selatan, Polda Metro Jaya, Sumatra Utara, dan Kalimantan Tengah.

    Baca: 18 Fasilitas Kepolisian di DKI Hancur Disikat Pedemo UU Cipta Kerja

    Mahasiswa yang ditangkap sebanyak 443 orang. Mereka diangkut oleh jajaran dari Polda Sulawesi Selatan, Polda Metro Jaya, Sulawesi Tenggara, Sumatra Utara, Papua Barat, dan Kalimantan Tengah.

    Sebanyak 419 buruh juga ditangkap jajaran Polda Metro Jaya dan Sumatra Utara. Terakhir, ada 55 pengangguran yang ditangkap oleh jajaran Polda Sulawesi Tenggara, Kalimantan Selatan, dan Sumatra Utara.

    Argo mengatakan aksi menolak UU Ciptaker menyasar kantor DPRD di masing-masing wilayah. Aparat melakukan pengamanan sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku. Bakan, kata dia, tak ada anggota polisi yang dilengkapi senjata api.

    "Kedua, di dalam kegiatan tersebut polisi melakukan nego-nego dalam berunjuk rasa supaya kegiatan aspirasinya disampaikan," ujar mantan Kabid Humas Polda Metro Jaya itu.

    Argo mengakui polisi melarang pedemo memasuki area tertentu. Sejumlah personel dari pengendalian massa (dalmas), Sabhara, dan Brimob diterjunkan untuk mengamankan aksi demo. Namun, bentrokan antara aparat dan pedemo tak terelakkan.

    "Ada beberapa fasilitas juga yang jadi korban, tidak hanya anggota saja. Anggota (polisi) walaupun dilempari tetap diam saja. Tetap bertahan, persuasif. Ada beberapa anggota yang luka karena dilempar. Tetap kami imbau, ternyata semakin anarkistis," tutur dia.

    (AZF)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id