Peran Kongkalikong 2 Tersangka Korupsi Jembatan Waterfront City Riau Diusut

    Fachri Audhia Hafiez - 12 Oktober 2020 23:32 WIB
    Peran Kongkalikong 2 Tersangka Korupsi Jembatan Waterfront City Riau Diusut
    Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Foto: MI/Rommy Pujianto
    Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa dua tersangka kasus korupsi pengadaan dan pelaksanaan pekerjaan pembangunan Jembatan Waterfront City di Dinas Bina Marga dan Pengairan Pemerintah Kabupaten Kampar, Riau, Tahun Anggaran 2015-2016. Peran kongkalikong kedua tersangka jadi materi pemeriksaan.

    Kedua tersangka tersebut ialah pejabat pembuat komitmen (PPK) Waterfront City Dinas PU Kampar, Adnan (ADN), serta Manajer Wilayah 2 PT Wijaya Karya (Wika) atau Ketua Komite Manajemen PT Wika-Sumindo JO, I Ketut Suarbawa (IKS).

    "Masing-masing dikonfirmasi oleh penyidik terkait dengan dugaan perbuatan para tersangka dengan aktif saling berkoordinasi," kata pelaksana tugas (Plt) juru bicara bidang penindakan KPK Ali Fikri di Jakarta, Senin, 12 Oktober 2020.

    KPK menduga keduanya melakukan kerja sama agar PT Wika dimenangkan sebagai kontraktor. Kerja sama itu diduga kuat berujung terjadinya pemberian sejumlah uang.

    "Dilanjutkan dengan adanya kick back (pemberian sejumlah uang) baik untuk tersangka ADN dan tersangka IKS maupun ke pihak lain terkait proyek jembatan Kampar," ucap Ali.

    Kasus ini bermula saat Pemerintah Kabupaten Kampar mencanangkan beberapa proyek strategis. Di antaranya pembangunan Jembatan Bangkinang atau yang kemudian disebut Jembatan Waterfront City.
     
    Adnan diduga mengadakan pertemuan dengan I Ketut Suarbawa dan beberapa pihak lain di Jakarta pada pertengahan 2013. Pada pertemuan Adnan memberikan informasi soal desain jembatan dan engineer's estimate (anggaran perkiraan proyek) kepada I Ketut Suarbawa.

    Mereka kongkalikong agar proyek tersebut ditangani perusahaan I Ketut. Kantor Layanan Pengadaan Barang dan Jasa Kabupaten Kampar mengumumkan lelang dimenangkan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. Kontrak pembangunan jembatan senilai Rp15,19 miliar.

    Adnan diduga menerima uang Rp1 miliar atau 1 persen dari nilai kontrak. Kerugian keuangan negara Rp39,2 miliar dari nilai proyek pembangunan Jembatan Waterfront City tahun jamak Tahun Anggaran 2015 dan Rp117,68 miliar pada 2016.

    (MBM)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id