Edhy Prabowo Membagikan Uang Suap ke Pihak Lain

    Candra Yuri Nuralam - 02 Maret 2021 13:35 WIB
    Edhy Prabowo Membagikan Uang Suap ke Pihak Lain
    Pelaksana tugas (Plt) juru bicara KPK Ali Fikri. Medcom.id/Arga Sumantri



    Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa karyawan swasta, Syammy Dusman, pada Senin, 1 Maret 2021. Syammy dimintai keterangannya terkait kasus dugaan suap ekspor benih lobster yang dilakukan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo.

    "Syammy didalami pengetahuannya terkait dugaan aliran sejumlah uang yang dibagikan tersangka EP (Edhy Prabowo) ke berbagai pihak," kata pelaksana tugas (Plt) juru bicara KPK bidang penindakan Ali Fikri melalui keterangan tertulis, Selasa, 2 Maret 2021.






    Ali tidak memerinci uang yang diberikan Edhy ke pihak lain itu. Dia juga ogah membeberkan orang-orang yang menerima duit itu dari Edhy. Namun, duit tersebut diduga kuat berasal dari hasil suap ekspor benih lobster.

    "Diduga dari kumpulan pemberian sejumlah uang oleh para eksportir benur (benih lobster) yang mendapatkan izin di Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2020," ujar Ali.

    KPK juga telah memeriksa pihak swasta, Mulyanto. Dari mulut Mulyanto, KPK mendalami pengelolaan yang dilakukan tersangka Amiril Mukminin berdasarkan arahan Edhy.

    Baca: KPK Panggil 2 ASN Bea Cukai untuk Mendalami Kasus Benih Lobster

    Edhy bersama enam orang lainnya telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap ekspor benih lobster. Sebanyak enam tersangka diduga menerima suap, yakni mantan staf khusus Menteri Kelautan dan Perikanan Safri dan Andreau Pribadi Misanta, pengurus PT ACK Siswadi, istri mantan staf Menteri Kelautan dan Perikanan Ainul Faqih, pihak swasta Amiril Mukminin, serta Edhy Prabowo.

    Seorang tersangka diduga sebagai pemberi, yakni Direktur PT DPP Suharjito. Edhy diduga menerima Rp3,4 miliar dan US$100 ribu dalam korupsi tersebut. Sebagian uang digunakan Edhy untuk berbelanja bersama istri, Andreau, dan Safri ke Honolulu, Hawaii.

    KKP diduga melakukan monopoli dalam ekspor benih lobster ini. Sebab, ekspor hanya bisa dilakukan melalui PT ACK dengan biaya angkut Rp1.800 per ekor.

    Edhy dan lima orang lainnya disangkakan pasal penerimaan suap. Mereka dijerat Pasal 12 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) juncto Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

    Suharjito dijerat pasal pemberi suap. Dia diduga melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 UU Tipikor juncto Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id