comscore

Polisi Kembali Panggil Edy Mulyadi pada 31 Januari

Siti Yona Hukmana - 29 Januari 2022 07:19 WIB
Polisi Kembali Panggil Edy Mulyadi pada 31 Januari
Pengarang Edy Mulyadi yang menyebut Kalimantan sebagai tempat jin buang anak. Dok. Istimewa
Jakarta: Polisi kembali memanggil pengarang, Edy Mulyadi, pada Senin, 31 Januari 2022. Edy akan dijemput paksa apabila kembali mangkir.

"Tim penyidik menerbitkan surat panggilan kedua dan disertai surat perintah membawa untuk hadir pada Senin, 31 januari 2022 jam 10.00 WIB," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Jumat, 28 Januari 2022.

 



Ramadhan mengatakan penyidik telah mengantarkan langsung surat panggilan kedua ke kediaman Edy Mulyadi. Surat itu diterima langsung oleh istri mantan calon legislatif (caleg) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu dengan menunjukkan surat perintah membawa pada Senin, 31 Januari 2022.

"Jadi, nanti Senin, 31 Januari 2022 kalau seandainya yang bersangkutan tidak hadir, kita jemput dan kita bawa ke Mabes Polri," ungkap Ramadhan.

Sejatinya Edy menjalani pemeriksaan pukul 10.00 WIB, Jumat, 28 Januari 2022. Namun, dia tidak hadir.

"Tadi pagi yang bersangkutan tidak hadir dan diwakilkan oleh tim kuasa hukumnya tiba di Bareskrim pukul 11.00, dan menyampaikan surat yang mana isinya yang bersangkutan tidak bisa hadir karena ada kegiatan yang sudah dijadwalkan," beber jenderal bintang satu itu.

Baca: Mangkir, Edy Mulyadi Terancam Dijemput Paksa

Sebelumnya, kuasa hukum Edy, Herman Kadir, mengatakan kliennya tidak bisa memenuhi panggilan pemeriksaan pertama. Edy ogah hadir karena surat panggilan dianggap tidak sesuai prosedur.

"Alasannya (tidak hadir), pertama prosedur pemangggilan tidak sesuai dengan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)," kata Herman Kadir di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Jumat, 28 Januari 2022.

Selain itu, surat panggilan yang dilayangkan polisi dianggap tidak jelas. Menurut Herman, tidak ada peristiwa hukum yang dijabarkan dalam panggilan tersebut. Hanya, mencantumkan pasal-pasal terkait suku, agama, ras dan antargolongan (SARA).

"Sehingga kami anggap itu kabur," ungkapnya.

Edy dilaporkan buntut menyebut Kalimantan tempat jin buang anak. Edy dipersangkakan Pasal 14 ayat 1 dan ayat 2 dan atau Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang KUHP yang mengatur terkait penyebaran berita bohong. Kemudian, Pasal 45A ayat 2 Jo Pasal 28 ayat 2 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2018 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang mengatur terkait penghinaan dan ujaran kebencian, Pasal 156 KUHP tentang Tindak Pidana kebencian atau Permusuhan Individu dan atau Antargolongan.

(AZF)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id