Keterangan Ani Hasibuan Modal Mencari Tersangka

    Siti Yona Hukmana - 15 Agustus 2019 13:25 WIB
    Keterangan Ani Hasibuan Modal Mencari Tersangka
    Ilustrasi. Medcom.id/Mohammad Rizal.
    Jakarta: Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Metro Jaya Kombes Iwan Kurniawan meminta Robiah Khairani Hasibuan alias Ani Hasibuan memenuhi panggilan polisi. Keterangan dokter ahli saraf itu modal polisi mencari tersangka dalam perkara dugaan petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) tewas diracun.
     
    "Dari hasil unggahan itu kan pernyataan yang dikeluarkan oleh Dokter Ani (Hasibuan). Karena itu saya perlu keterangannya, sehingga bisa diproses untuk menentukan tersangka," kata Iwan, di Jakarta, Kamis, 15 Agustus 2019. 

    Iwan mengatakan Ani hanya akan dimintai keterangannya sebagai saksi. 'Suara' Ani diperlukan untuk mengetahui kebenaran atas pemberitaan yang diduga mencatut namanya.

    Saat ini, ungkap Iwan, terlapor masih berstatus lidik. Kendati, Ani Hasibuan lah yang menjadi sasaran dalam kasus tersebut.

    "Tapi sampai sekarang dia tidak bisa memenuhi panggilan. Saat ini kami masih berkoordinasi terus dengan pihak kuasa hukumnya kapan bisa dilakukan pemeriksaan," ujar Iwan.

    Baca juga: Ani Hasibuan Diminta Penuhi Panggilan Polisi

    Menurut Ani, keterangan Ani juga untuk mengonfirmasi laporannya atas portal berita Tamsh-news.com. Karena itu ia menilai tujuan polisi dengan pelaporan Ani sama, yaitu untuk mencari tersangka dalam kasus tersebut.

    "Targetnya ke satu titik. Jadi, sebenarnya cukup yang bersangkutan memenuhi panggilan kami saja, maka laporan yang bersangkutan bisa tercapai," tutur Iwan.

    Di sisi lain, pihak Ani Hasibuan pernah meminta polisi untuk memeriksa Tamsh-news.com terlebih dahulu sebelum menginterogasi dirinya. Itu salah satu alasan Ani tak pernah memenuhi panggilan pemeriksaan.

    Namun, kata Iwan, penilaian yang dilakukan penyidik dengan masyarakat berbeda. Penyidik memiliki strategi untuk memeriksa saksi terlebih dahulu.

    "Lebih bagus saksi-saksi yang kita dahulukan. Kalau target yang didahulukan pasti dia punya kebebasan berbicara bohong. Lebih bagus kita kuatkan saksi-saksinya," pungkas Iwan.

    Baca juga: Nyoblos Dua Kali, Warga Barito Timur Dipenjara Dua Bulan

    Ani dilaporkan oleh Carolus Andre Yulika pada Minggu, 12 Mei 2019 lalu. Laporan itu terdaftar dengan nomor LP/2929/V/2019/PMJ/Dit.Reskrimsus.

    Pernyataan Ani mengenai banyaknya petugas KPPS pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 meninggal akibat diracun memancing kontroversi di media sosial. Isu itu lalu dimuat portal Tamsh-news.com pada Minggu, 12 Mei 2019, dengan judul "dr Ani Hasibuan SpS: Pembantaian Pemilu, Gugurnya 573 KPPS".

    Ani dilaporkan dengan Pasal 28 ayat (2) juncto Pasal 35 juncto Pasal 45 ayat (2) Undang-Undang (UU) Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan/atau Pasal 14 dan/atau Pasal 15 UU Nomor 1 Tahun 1946 Tentang Peraturan Hukum Pidana juncto Pasal 55 ayat (1) juncto Pasal 56 KUHP.



    (MEL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id