DPR: Rampas Aset Bentjok Demi Hak Nasabah Jiwasraya

    Juven Martua Sitompul - 22 Oktober 2020 21:04 WIB
    DPR: Rampas Aset Bentjok Demi Hak Nasabah Jiwasraya
    Ilustrasi PT Asuransi Jiwasaraya (persero). MI/Ramdani
    Jakarta: Anggota Komisi XI DPR RI Masinton Pasaribu berharap vonis majelis hakim nantinya mampu merampas semua aset milik Dirut PT Hanson International Benny Tjokrosaputro dan Komisaris PT Trada Alam Minera Heru Hidayat. Perampasan harta terdakwa kasus korupsi di PT Asuransi Jiwasraya itu penting untuk mengembalikan uang jutaan nasabah Jiwasraya.

    "Ini sebisa mungkin bisa dikejar aset rampasan, karena banyak nasabah tradisional Jiwasraya yang berharap masa depannya lebih baik. Tolong ini dilihat, mereka jangan sampai terbengkalai," kata Masinton dalam agenda diskusi daring yang bertajuk 'Vonis Maksimal Tersangka Jiwasraya', Kamis, 22 Oktober 2020.

    Menurutnya, kurungan penjara terhadap pelaku rasuah, apalagi dengan jumlah yang sangat besar seperti Jiwasraya belum cukup. Sebab, dampak kasus ini terasa langsung oleh jutaan masyarakat yang menjadi nasabah.

    "Sejauh ini, peradilan kita biasanya cukup dihukuman badan, tapi belum mampu mengejar kerugian korupsi tersebut. Termasuk kepastian bagi para nasabah, keadilan dan kemanfaatan. Penegak hukum harus bisa mengejar kerugian negara sebesar-besarnya," tegas politisi PDI Perjuangan itu.

    Skandal besar Jiwasraya, menurut Masinton, jadi contoh skema korupsi yang terstruktur, sistematis, dan masif. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya orang yang terlibat di beberapa sektor, mulai dari oknum pemerintah dan pengusaha yang mencoba bermain mata melibas aturan.

    "Kejaksaan Agung harus mampu melacak ini semua. Ingat, ini ada jutaan nasabah tradisional, pensiunan dan guru yang mereka berharap jaminan dari uang masa tuanya, yang dititipkan di asuransi milik pemerintah," kata dia.

    Sementara itu, Pakar Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), Yenti Garnasih, menilai aksi bersama-sama antara Bentjok, Heru, dan empat terdakwa yang telah divonis seumur hidup diharap menjaga integritas hakim agar berada di jalur yang sama untuk memberika vonis serupa. Namun, adanya pasal tambahan TPPU untuk Bentjok dan Heru sudah jelas perlu menjadi pemberat lain.

    "Pemiskinan hingga perampasan aset yang terkait korupsi harus dikejar. Dan sebaiknya setiap ada kejahatan ekonomi, jaksa bisa langsung masuk ke pasal pencucian uang," kata Yenti.

    Baca: Terdakwa Jiwasraya Bantah Punya Harta Rp10 Triliun

    Sebelumnya, empat terdakwa yaitu Mantan Direktur Utama Jiwasraya, Hendrisman Rahim; Mantan Direktur Keuangan PT AJS, Hary Prasetyo; Mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan PT AJS, Syahmirwan; dan Direktur PT Maxima Integra, Joko Hartono Tirto di vonis seumur hidup, khusus untuk Hendrisman dan Syahmirwan, vonis hakim jauh di atas tuntutan jaksa.

    Sedangkan dua terdakwa lain, Benny Tjokrosaputro dan Heru Hidayat baru akan menerima vonis pada 26 Oktober 2020. Penundaan tersebut dilakukan lantaran keduanya terindikasi posotif covid-19.

    Bentjok dituntut hukuman seumur hidup dengan pidana tambahan berupa membayar uang pengganti kepada negara sebesar Rp6.078.50.000.000 dengan ketentuan jika dalam waktu 1 bulan sesudah putusan pengadilan mempunyai kekuatan hukum tetap dan terdakwa tidak membayar uang pengganti tersebut, maka harta bendanya disita dan dilelang untuk menutupi uang pengganti.

    Sementara itu Heru Hidayat dituntut pidana pidana penjara seumur hidup dan pidana denda sebesar Rp5 miliar, subsider selama 1 tahun kurungan dengan perintah supaya terdakwa tetap dalam tahanan. Membayar uang pengganti sebesar Rp10,728 triliun.

    Jika terdakwa Heru Hidayat tidak membayar uang pengganti paling lama dalam 1 bulan sesudah putusan pengadilan hukum tetap maka harta benda terdakwa dapat disita oleh jaksa dan dalam menutupi uang pengganti tersebut.

    (JMS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id