comscore

Tak Cukup Bukti, Kasus Mafia Tanah Kakek Tukang AC Dihentikan

Siti Yona Hukmana - 18 Januari 2022 00:43 WIB
Tak Cukup Bukti, Kasus Mafia Tanah Kakek Tukang AC Dihentikan
Ilustrasi. Medcom.id
Jakarta: Polres Metro Jakarta Barat menghentikan kasus mafia tanah dengan korban kakek tukang AC, Ng Je Ngay. Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) terbit dengan nomor S.Tap/06/I/HUK.6.6./2022 Res JB.

"Bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan pada tingkat penyidikan tidak cukup bukti, maka untuk itu perlu dikeluarkan surat ketetapan ini," kata Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Ady Wibowo dari surat yang diterima Medcom.id, Senin, 17 Januari 2022.
Dalam surat SP3 lainnya bernomor B/06/I/2022/Sat Reskrim/Red JB disebutkan penyidik melakukan gelar perkara eksternal pada Senin, 10 Januari 2022. Hasilnya, penyidikan tindak pidana menggunakan akta autentik palsu dan atau pertolongan jahat atau tadah sebagaimana Pasal 266 ayat 2 KUHP dan atau Pasal 480 KUHP yang dilaporkan terhadap Anton Gunawan sesuai Laporan Polisi Nomor: LP/436/III/2018/PMJ/Restro Jakbar pada 21 Maret 2018, dihentikan proses penyidikannya karena tidak cukup bukti.

"Selanjutnya, untuk memberikan kepastian hukum penyidik menerbitkan surat perintah penghentian perkara (SP3)," demikian isi surat yang ditanda tangani Wakasatreskrim Polres Metro Jakarta Barat selaku penyidik, Kompol Niko Purba.

Atas penghentian penyidikan itu, tersangka Anton diperintahkan untuk dikeluarkan dari tahanan dan benda sitaan dikembalikan. SP3 itu berlaku sejak Selasa, 11 Januari 2022.

Medcom.id mencoba mengklarifikasi penghentian penyidikan ini ke Polres Metro Jakarta Barat. Namun, belum ada respons baik dari Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Ady Wibowo, Wakasatreskrim Kompol Niko Purba, dan Kasatreskrim Kompol Dwi Harsono.

Baca: Sahroni Minta Polri Gencar Memberantas Jaringan Mafia Tanah

Sementara itu, pengacara Ng Je Ngay, Aldo Joe, menyesalkan keputusan penyidik. Terlebih, dalih yang digunakan kurangnya alat bukti.

"Untuk menjadi tersangka diperlukan dua alat bukti yang cukup. Sempat ditahan kok bisa menjadi kurang alat bukti alasannya. Ini menjadi tanda tanya besar, apakah alat bukti tersebut hilang, tercecer, dicuri, atau apa?," kata Aldo.

Aldo menuturkan dalam berkas perkara, alat bukti yang dilampirkan sudah lengkap sesuai Pasal 184 KUHAP. Ada bukti yang dilampirkan meliputi keterangan 20 saksi, 2 saksi ahli. Lalu dokumen-dokumen seperti KTP, Kartu Keluarga, NPWP, buku tabungan palsu, dan laboratorium forensik terkait tanda-tangan palsu.

"Terkecuali sertifikat a quo hingga kini belum disita. Jelas penyidik mendapatkan petunjuk dari berbagai macam alat bukti yang telah dikumpul. Pelaku tidak pernah melaksanakan pengecekan fisik rumah, pembelian di bawah harga pasar," ungkap Aldo

Aldo menambahkan korban telah melayangkan gugatan perdata. Pelaku yang sudah menjadi terdakwa dalam gugatan itu disebut mengakui kesalahannya dan meminta maaf.

"Serta bersedia melaksanakan ganti rugi," ujar Aldo.

Aldo menduga ada yang mengintervensi kasus tersebut. Sehingga, pengusutan kasus itu dihentikan penyidik dengan alasan tak cukup bukti.

"Awalnya saya apresiasi Polres Metro Jakarta Barat melalui Kapolres yang membuat kasus ini tegak lurus. Entah kenapa jadi belok-belok dari ditahan, kemudian ditangguhkan, hingga akhirnya sekarang dibebaskan dan berakhir pada penghentian perkara," beber Aldo.

Kasus bermula saat kakek, Ng Je Ngay, 70, kehilangan rumah dan tanahnya di Jakarta Barat senilai Rp2-3 miliar jika ditaksir menggunakan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP). Ng Je Ngay membeli rumah tersebut dari Oceng Lim pada 1990. Penjual awal juga telah mengonfirmasi pembeli yang sah rumahnya adalah sang kakek.

Namun, kakek disebut pernah menjual rumah tersebut. Kepemilikan rumah beralih nama menjadi milik orang lain. Lalu, kakek tukang AC dilaporkan kasus penyerobotan lahan pada 2017. Tak terima, sang kakek melaporkan kasus mafia tanah itu ke polisi pada 21 maret 2018.

Kakek lima kali mengirim surat ke Kapolda Metro Jaya Irjen Mohammad Fadil Imran meminta perlindungan hukum. Namun, tak satu pun surat direspons.

(AZF)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id