Kasus Novel Diduga Percobaan Pembunuhan Berencana

    Candra Yuri Nuralam - 07 Januari 2020 08:09 WIB
    Kasus Novel Diduga Percobaan Pembunuhan Berencana
    Penyidik senior KPK Novel Baswedan. Foto: MI/Rommy Pujianto
    Jakarta: Penyidik senior Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) Novel Baswedan menilai penyiraman air keras terhadapnya sebagai kasus penyiksaan berat. Dia menduga pelaku ingin menghabisinya.

    "Ini level penganiayaan tertinggi walaupun ada peluang bahwa penyerangan kepada saya ini upaya percobaan pembunuhan berencana," kata Novel usai pemeriksaan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin, 6 Januari 2020.

    Novel sempat mengatakan hal tersebut kepada penyidik saat diperiksa sebagai korban. Menurut dia, kasusnya bukan hanya sekadar kekerasan biasa seperti yang diatur Pasal 170 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

    "Saya itu diserang oleh dua orang eksekutor pelaku ya yang mereka berdua tapi yang menyerang satu orang, sedangkan pasal yang diterapkan Pasal 170, saya khawatir pasal tersebut enggak tepat," ujar Novel.

    Meski demikian, Novel mengaku hanya memberikan saran kepada penyidik. Dia tidak bermaksud mengatur penyidik terkait kasus yang menimpanya. Namun, dia ingin penyidik bijak dalam membedah kasusnya.

    "Saya berharap proses penyidikan ini berjalan dengan objektif dan sesuai fakta apa adanya," tutur Novel.

    Novel Baswedan disiram dengan air keras oleh dua orang tak dikenal pada Selasa, 11 April 2017. Penyidik senior KPK itu menjadi korban teror usai salat Subuh di Masjid Jami Al Ihsan, Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara.
     
    Pada eranya, eks Kapolri Jenderal Tito Karnavian membentuk Tim Pencari Fakta untuk membedah kasus Novel. Tim yang terdiri dari beragam ahli itu menyimpulkan penyerangan ini terkait pekerjaan Novel sebagai penyidik KPK.
     
    Pengusutan kasus Novel kemudian dilanjutkan Tim Teknis yang bekerja mulai Kamis, 1 Agustus 2019. Tim yang berisikan personel dengan beragam kemampuan khusus ini bekerja secara senyap.
     
    Presiden Joko Widodo mengultimatum Kapolri Jenderal Idham Azis, yang baru dilantik Jumat, 1 November 2019, untuk mengungkap penyerang Novel secepatnya. Tersangka RM dan RB akhirnya ditangkap Kamis, 26 Desember 2019.
     
    Dua polisi penyerang Novel itu kini dijebloskan di Rumah Tahanan (Rutan) Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri untuk 20 hari pertama. RB sempat berteriak mencela Novel saat hendak masuk mobil tahanan.
     
    "Tolong dicatat saya enggak suka sama Novel karena dia pengkhianat," ungkap RB, Sabtu, 28 Desember 2019.





    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id