Buron 17 Tahun, Pembobol BNI Diekstradisi dari Serbia

    Fachri Audhia Hafiez - 09 Juli 2020 09:51 WIB
    Buron 17 Tahun, Pembobol BNI Diekstradisi dari Serbia
    Menkum HAM Yasonna Laoly berbincang dengan Maria di pesawat/Dok Istimewa.
    Jakarta: Tersangka kasus pembobolan BNI, Maria Pauline Lumowa, diekstradisi dari Serbia ke Indonesia. Maria buron selama 17 tahun.

    Proses ekstradisi dipimpin Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkum HAM) Yasonna H Laoly. "Kami telah secara resmi menyelesaikan proses handing over atau penyerahan buronan atas nama Maria Pauline Lumowa dari pemerintah Serbia," kata Yasonna dalam keterangan pers, Kamis, 9 Juli 2020.

    Yasonna menyebut keberhasilan ekstradisi melalui diplomasi hukum dan hubungan baik kedua negara. Proses ini sebagai komitmen pemerintah dalam penegakan hukum.

    "Pemerintah Serbia juga mendukung penuh permintaan Indonesia berkat hubungan baik yang selama ini dijalin kedua negara," tutur Yasonna.

    Rencananya delegasi Indonesia dan Maria tiba di Indonesia, Kamis, 9 Juli 2020. Maria akan menghadapi proses hukum atas dugaan melakukan pelanggaran terhadap Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi dengan ancaman pidana maksimal seumur hidup.

    Maria merupakan salah satu tersangka pembobol BNI melalui L/C fiktif pada 2003. Negara dirugikan Rp1,2 triliun akibat perbuatan itu.

    Maria melarikan diri ke Singapura pada September 2003. Keberadaannya terendus di Belanda pada 2009.

    Pemerintah Indonesia melakukan upaya pengejaran tanpa henti sejak Maria melarikan diri. Termasuk menyampaikan permintaan ekstradisi kepada Pemerintah Kerajaan Belanda.

    Namun, otoritas Belanda menolak. Sebab, Maria tercatat sebagai warga negara Belanda dan kedua negara tak memiliki perjanjian bilateral di bidang ekstradisi.

    Pemerintah Kerajaan Belanda memberikan opsi agar Maria Pauline Lumowa diadili di Belanda. Upaya penegakan hukum lantas memasuki babak baru saat Maria ditangkap oleh NCB Interpol Serbia pada 16 Juli 2019 di Bandara Internasional Nikola Tesla, Beograd, Serbia. 

    Dia terdeteksi berdasarkan red notice Interpol dengan nomor kontrol A-1361/12-2003. Yasonna menyebut penangkapan itu dilakukan berdasarkan red notice Interpol yang diterbitkan pada 22 Desember 2003. 

    "Pemerintah bereaksi cepat dengan menerbitkan surat permintaan penahanan sementara yang kemudian ditindaklanjuti dengan permintaan ekstradisi melalui Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum Kemenkumham," kata dia.

    Duta Besar RI untuk Republik Serbia dan Montenegro, M Chandra Widya Yudha, mengirimkan surat permintaan ekstradisi. Pemerintah Republik Serbia mengabulkan permintaan Indonesia melalui Keputusan Menteri Kehakiman Serbia Nomor 713-01-02436/ 2019-08 tertanggal 6 April 2020.

    (ADN)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id