2 Pelaku Vandalisme Mengaku Disiksa Polisi

    Siti Yona Hukmana - 23 Juli 2020 08:00 WIB
    2 Pelaku Vandalisme Mengaku Disiksa Polisi
    Ilustrasi. Medcom.id
    Jakarta: Dua pelaku vandalisme di Tangerang, Muhammad Riski Riyanto, 21, dan Rio Immanuel Adolof, 23, mengaku disiksa polisi. Mereka mengadukan penyiksaan itu ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta dan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS).

    "Orang tua mereka menjelaskan anaknya mengalami penyiksaan hingga meninggalkan luka yang menghitam," kata Staf Pembela Hukum dan HAM KontraS, Andi M Rezaldy di Jakarta, Kamis, 23 Juli 2020.

    Andi mengatakan tindakan kekerasan itu dilakukan anggota Polres Tangerang. Kedua vandal yang diduga anggota kelompok Anarko itu mengalami penyiksaan sejak Kamis, 9 April 2020-Sabtu, 11 April 2020.

    "Bentuk penyiksaan yang dialami berupa dipukul, ditendang, diborgol pakai kabel tie hingga darah membeku dan tangan membengkak, dipukul dengan besi di beberapa bagian tubuh dan kepala, lalu dibungkus dengan plastik hingga tidak sadarkan diri," beber Andi.

    Andi menyebut proses penangkapan terhadap para pelaku vandalisme juga tidak sesuai prosedur. Anggota Polres Tangerang yang berjumlah 10 orang tidak menunjukkan surat penangkapan.

    "Anggota kepolisian hanya menunjukkan surat tugas bulanan, sedangkan korban (pelaku vandalisme) diintimidasi dengan senjata laras panjang, kepala mereka juga dipukul menggunakan helm sebanyak dua kali," ujar Andi.

    Baca: Dua Pelaku Vandalisme di Tangerang Dihukum Empat Bulan Penjara

    Andi mengatakan polisi juga menghalangi akses bantuan hukum kepada kedua pelaku vandalisme. Ini terjadi saat kedua pelaku menjalani pemeriksaan di Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya.

    "Sejak keduanya diperiksa pada Minggu, 12 April hingga Senin, 4 Mei 2020, kami selaku kuasa hukum selalu dipersulit dan dihalang-halangi untuk bertemu dengannya," ungkap Andi.

    Kepolisian juga disebut telah menuduh kedua pelaku vandalisme sebagai kelompok Anarko dengan menginterogasi secara terus-menerus dalang dari perbuatan mereka. Saat konfrensi pers di Polda Metro Jaya pada Sabtu, 11 April 2020, polisi bahkan menyebut akan ada penjarahan se-Pulau Jawa oleh kelompok Anarko.

    "Anggota Polres Tangerang dan Polda Metro Jaya harus diproses secara disiplin atau etik hingga diadili secara pidana," tegas Andi.

    Anggota Polres Tangerang dan Polda Metro Jaya diyakini telah melakukan pelanggaran, baik terhadap aturan internal di kepolisian maupun sejumlah peraturan perundang-undangan. Yakni, melanggar Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM.

    Kemudian, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan Kovenan Internasional Tentang Hak-Hak Sipil dan Politik, Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi, dan Merendahkan Martabat, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), KUHAP, serta Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar HAM dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian.

    Kedua pelaku vandalisme itu ditangkap di Kota Tangerang pada Jumat, 10 April 2020. Mereka mencoret dinding pertokoan dengan kalimat provokatif yang berpotensi memicu kerusuhan.

    Coretan bernada provokatif seperti 'sudah krisis saatnya membakar', 'kill the rich', 'mau mati konyol atau melawan'.

    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id