Petinggi Pertamina jadi Saksi Kasus Suap Pupuk

    Juven Martua Sitompul - 03 Mei 2019 11:00 WIB
    Petinggi Pertamina jadi Saksi Kasus Suap Pupuk
    Juru bicara KPK Febri Diansyah. Foto: Antara/Aprillio AKbar
    Jakarta: VP Shipping Operation PT Pertamina, Joko Eko Purwanto dipanggil penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Nama Joko Eko masuk dalam daftar saksi penyidikan kasus dugaan suap jasa pengangkutan pupuk Indonesia.

    "Yang bersangkutan akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka AWI (Marketing manager PT HTK, Asty Winasti)," kata juru bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jakarta, Jumat, 3 Mei 2019.

    Belum dijelaskan secara rinci kaitan petinggi PT Pertamina dalam kasus ini. Namun, diduga kuat karyawan perusahaan plat merah itu mengetahui ihwal kasus suap ini.

    Penyidik juga memanggil Direktur Operasional PT Pupuk Indonesia Logistik (PT Pilog) Budiarto dan pegawai PT Humpuss Transportasi Kimia (PT HTK) Selo P Purnawarnath. Keduanya akan dimintai keterangan untuk melengkapi berkas penyidikan tersangka yang sama.

    Baca juga: KPK Periksa General Manager PT Pupuk Indonesia Logistik

    Asty Winasti bersama Anggota Komisi VI DPR RI Bowo Sidik Pangarso dan pejabat PT Inersia, Indung, ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait kerja sama pengangkutan pupuk milik PT Pilog dengan PT HTK. Bowo dan Idung sebagai penerima sedangkan Asty pemberi suap.

    Bowo diduga meminta hadiah atau fee dari PT HTK atas biaya angkut. Total hadiah yang diterima Bowo USD2 permetric ton. Pemberian fee terjadi enam kali di sejumlah tempat seperti rumah sakit, hotel dan kantor PT HTK senilai Rp221 juta dan USD85.130.

    Dari Bowo penyidik menyita uang sebesar Rp8 miliar dalam 82 kardus dan dua boks kontainer. Uang Rp8 miliar itu terdiri dari pecahan Rp50 ribu dan Rp20 ribu yang sudah dimasukkan ke dalam amplop berwarna putih.

    Bowo dan Indung selaku penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b ayat (1) atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

    Sedangkan Asty selaku penyuap dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.



    (MEL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id