Adelin Lis 4 Kali Buat Paspor, 3 Atas Nama Hendro Leonardi

    Juven Martua Sitompul - 21 Juni 2021 20:38 WIB
    Adelin Lis 4 Kali Buat Paspor, 3 Atas Nama Hendro Leonardi
    Adelin Lis mendapat kawalan ketat saat tiba di Jakarta. Dok. Kejagung RI



    Jakarta: Terpidana kasus korupsi pembalakan liar Adelin Lis tercatat pernah memegang paspor Indonesia sebanyak empat kali. Paspor itu bahkan dibuat di sejumlah wilayah Tanah Air.

    Pada 2002, Adelin tercatat membuat paspor atas nama Adelin Lis dan diterbitkan di Polonia, Sumatra Utara (Sumut). Kemudian pada 2008 dan 2013, dia membuat paspor dengan nama Hendro Leonardi yang diterbitkan di Jakarta Utara (Jakut).

     



    "Terakhir, atas nama Hendro Leonardi yang diterbitkan di Jakarta Selatan pada 2017," kata Kabag Humas dan Umum Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), Arya Pradhana Anggakara, melalui keterangan tertulis, Jakarta, Senin, 21 Juni 2021.

    Menurut dia, Ditjen Imigrasi baru menggunakan Sistem Informasi Manajemen Keimigrasian (SIMKIM) pada 2009. Sebelum 2009, data pemohon paspor hanya tersimpan secara manual di server kantor imigrasi setempat dan tidak terekam di Pusat Data Keimigrasian.

    Hal ini yang menyebabkan Adelin dapat mengajukan paspor pada 2008 dengan menggunakan identitas Hendro Leonardi dan tidak terdeteksi. Seluruh persyaratan permohonan paspor dan mekanisme penerbitan telah melalui ketentuan, yaitu penyerahan berkas persyaratan, pemeriksaan berkas, wawancara, dan pengambilan sidik jari dan foto.

    "Yang bersangkutan juga telah melampirkan serta menunjukkan dokumen yang menjadi syarat permohonan baik yang asli maupun fotokopi kepada petugas, yaitu KTP, Surat Bukti Perekaman KTP Elektonik, KK, Akte Lahir, dan surat pernyataan ganti nama," kata Arya.

    Baca: Kronologi Pemulangan Buronan Adelin Lis ke Indonesia

    Arya mengatakan saat ini Ditjen Imigrasi sedang berkordinasi dengan Ditjen Dukcapil untuk mendalami terkait keabsahan data diri atas nama Hendro Leonardi. Jika terbukti telah terjadi pemalsuan data untuk memperoleh paspor maka Adelin dapat dikenakan Pasal 126 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian.

    "Informasi dan perkembangan lebih jauh tentang hasil koordinasi ini akan segera disampaikan dalam beberapa hari ke depan," tegas dia.

    Buron terpidana pembalakan liar di Kabupaten Mandailing Natal ini pernah melarikan diri ke Tiongkok dan ditangkap pada 2006. Adelin melarikan diri setelah puluhan orang tak dikenal mengeroyok 4 petugas KBRI yang mengawalnya.

    Namun, dia ditangkap lagi setelah dibantu kepolisian Beijing. Pada 2008, Adelin kembali melarikan diri sampai tertangkap pada Maret 2021 di Singapura. Sebelum buron, Adelin dipidana 10 tahun penjara, denda Rp1 miliar rupiah, dan uang penganti 119 miliar rupiah atas kasus tindak pidana korupsi.
     
    Adelin terbukti melanggar Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang RI Nomor 21 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi dengan ancaman seumur hidup serta Undang-Undang RI Nomor 41 Tahun 1999 yang telah diubah dengan Undang-Undang RI Nomor 19 Tahun 2004 tentang Kehutanan.

    (JMS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id