UU KPK Mengembalikan Muruah Lembaga Rasuah

    Medcom - 18 Oktober 2019 15:00 WIB
    UU KPK Mengembalikan Muruah Lembaga Rasuah
    Ilustrasi. Foto: Antara/Muhammad Adimaja
    Jakarta: UU KPK dinilai dapat mengembalikan muruah KPK. UU itu akan memperkuat serta mengembalikan tugas dan wewenang KPK on the right track.
     
    Hal itu diungkapkan Tim Perumus RUU KPK Romli Atmasasmita dalam diskusi publik bertajuk `Quo Vadis Pemberantasan Korupsi di Indonesia` di Aula Maftuhah Yusuf Gedung Dewi Sartika, Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rawamangun, Jakarta Timur.

    Romli mengatakan, KPK diharapkan bisa mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera dengan tetap memberikan jaminan perlindungan kepastian hukum yang adil. Untuk mencapai tujuan dan harapan tersebut, maka KPK perlu diawasi oleh lembaga Dewan Pengawas (Dewas).
     
    "Dewas memiliki tugas pokok mengawasi kinerja KPK. Tidak hanya pada evaluasi kinerja KPK, tetapi meliputi pemberian izin atau tidak memberi izin untuk penyadapan," kata Romli, Jumat 18 Oktober 2019.
     
    "Penyadapan merupakan langkah hukum yang membenarkan tindakan ilegal yang rentan penyalahgunaan kewenangan. Proses (pemberian) izin penyadapan merupakan tindakan pro-justitia karena dipergunakan dalam melaksanakan tugas penyelidikan, penyidikan dan penuntutan kasus korupsi," ujar Romli.
     
    Menurut Romli, penyadapan tidak ditujukan kepada pengadilan, karena hakim adalah penyelenggara negara yang menjadi objek pengaturan UU Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara Yang Bebas dan Bersih dari KKN.
     
    Kegiatan diskusi yang diselenggarakan Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Sosial (IKA FIS) UNJ ini dibuka Rektor UNJ Komarudin Sahid.
     
    Sementara narasumber lain yang hadir adalah Suhadi (Kordinator Prodi PPKN UNJ), Firman Wijaya (Ketua Program Pascasarjana Program Doktor FH Universitas Krsinadwipayana), dan Victor Santoso Tandiasa (Lawyer Constitutional).
     
    Ketua Umum IKA FIS UNJ, Rasminto mengatakan, mengelola dialog publik di tengah masyarakat merupakan wujud warga negara yang cendikia, sehingga berbagai aspek yang dikaji bisa dilihat dari berbagai sudut pandang.
     
    Menurut Rasminto, dari situlah keilmuan berperan yang membuat cakrawala berpikir menjadi luas dan tak terbatas, sesuai dengan idelogi kebangsaan.
     
    "Kegiatan ini bertujuan menunjukkan ruang eksistensi alumni IKA FIS UNJ yang hari ini menyuguhkan dialog publik, juga sebuah ajang kepedulian terhadap dunia akademisi yang belakangan lupa mengkaji setiap persoalan dalam perspektif akademik, sehingga argumentasi yang disampaikan kuat secara ilmiah," kata Rasminto.


    (FZN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id