Myanmar dan Tiongkok Penyuplai Narkoba Terbesar ke Indonesia

    Candra Yuri Nuralam - 12 Maret 2019 14:42 WIB
    Myanmar dan Tiongkok Penyuplai Narkoba Terbesar ke Indonesia
    Deputi Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari/Medcom.id/Candra Yuri Nuralam
    Jakarta: Deputi Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN) Arman Depari menyebut narkotika yang masuk ke Indonesia banyak berasal dari negara tetangga. Narkotika jenis sabu menjadi yang paling sering masuk ke Tanah Air.

    "Yang kita temukan khusus untuk sabu atau methamphetamine berasal dari Myanmar dan Tiongkok," kata Arman di Gedung BNN, Cawang, Jakarta Timur, Selasa, 12 Maret 2019.

    Arman menjelaskan pola distribusi dari kedua negara itu sama. Barang transit di Malaysia sebelum masuk Indonesia.

    "Walaupun dalam beberapa kasus kita bisa temukan langsung dari negara-negara yang bersangkutan," ujar Arman.

    Baca: Napi Lapas Subang Kendalikan Jaringan Narkoba Internasional

    BNN memprediksi ada seratus jaringan narkoba yang saat ini 'bermain' di Indonesia. Sindikat kecil dari negara lain pun ada.

    "Jadi bisa seratus jaringan, bisa 50 jaringan, bisa puluhan. Yang jelas, memang banyak sindikat yang beroperasi di Indonesia, terutama dari Eropa, China, Taiwan, Malaysia, Thailand, Myanmar, Vietnam dan seterusnya," beber Arman.

    BNN menyadari kondisi itu merupakan tantangan besar. Kerja sama dengan negara lain, terutama ASEAN, sangat diperlukan.

    "Untuk sama-sama berupaya memerangi, menemukan, menangkap, dan membawa mereka ke pengadilan," tegas Arman.

    Beredar di Lapas

    Narkotika, terang dia, banyak  beredar di lembaga pemasyarakatan (lapas). Peredaran lebih mudah karena kurangnya pengawasan.

    "Ya Saya kira, mungkin mereka berpikir di lapas mereka tidak lagi diawasi petugas BNN dan kepolisian," ucap Arman.

    Baca: Dua Pengedar Jaringan Lapas Cipinang Ditangkap

    Arman mengakui pengawasan narapidana di lapas memang sangat minim. Jumlah petugas dan penghuni lapas yang selisih jauh menjadi permasalahan sendiri.

    "Walaupun sebenarnya kalau di lapas itu, seharusnya, mereka lebih diawasi," sesal dia.

    Menurut Arman, penjaga lapas kerap kecolongan. Padahal, jaringan narkotika menerapkan metode yang sama.

    "Tapi ternyata mereka merasa lebih bebas di sana, dan memiliki alat-alat yang diperlukan untuk bisa tetap berkomunikasi dan melakukan transaksi. Nah kalau itu lebih nyaman, ya pasti mereka melakukan," jelas dia.



    (OJE)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id