Eksistensi Teroris Uceng Sejak Era Nurdin M Top

    Lukman Diah Sari - 11 Februari 2019 13:19 WIB
    Eksistensi Teroris Uceng Sejak Era Nurdin M Top
    Teroris Hari Kuncoro alias Uceng ditangkap lagi atas dugaan keterlibatan kasus terorisme. (Foto: Medcom.id/Lukman Diah Sari)
    Jakarta: Hari Kuncoro alias Wahyu Nugroho alias Uceng ditangkap lantaran hendak ke Suriah. Uceng adalah residivis kasus terorisme dan memiliki peran penting dalam aksi teror di Indonesia. 

    "Keterlibatan HK alias Uceng dalam kasus terorisme di Indonesia cukup panjang, dari mulai kegiatan kelompok Jamaah Islamiyah Nurdin M Top sangat eksis. Tersangka juga sudah keluar masuk (penjara)," jelas Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta, Senin, 11 Februari 2019. 

    Dari pendalaman, kata Dedi, Uceng mendapat saran dari seorang algojo ISIS Abu Wahid untuk pergi ke Suriah. Keterangan itu, diketahui dari hasil komunikasi intens antara Uceng dengan Abdul Wahid. 

    Lebih lanjut, untuk bisa ke Suriah, Uceng kudu merogoh kocek Rp30 juta. Biaya itu, sudah termasuk tiket dan pembuatan paspor palsu. Sehingga, Uceng memiliki banyak identitas untuk memalsukan dokumen. 

    "HK alias Uceng setelah di Suriah dan mendapatkan uang, akan membagikan uang ke 'sel tidur' di Indonesia untuk melakukan aksi teror," ungkapnya. 

    Baca juga: Residivis Kasus Terorisme Ditangkap

    Kendati demikian Dedi memastikan, 'sel tidur' teroris di Indonesia sudah dalam pantauan Densus 88 Antiteror maupun Satgas Antiteror di masing-masing polda di Indonesia. 

    "Saat ini Uceng sudah ditahan oleh Densus dan masih  didalami untuk mengungkap jaringan teroris di Indonesia dan luar negeri, khususnya di Suriah," bebernya. 

    Akibat perbuatannya, HK disangkakan Pasal 12 a ayat 1 Undang-undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang perubahan Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang perubahan Undang-undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. 

    Pasal 15 jo Pasal 7 Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 perubahan Undang-undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Dia juga dijerat Pasal 13 huruf c Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Terorisme dan Pasal 263 KUHP tentang pemalsuan dokumen.

    Baca juga: Polisi Masih Buru Kelompok Teroris Ali Kalora Nasional 



    (MEL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id