Kader PDI Perjuangan Disebut Jadi Penghubung Proyek di Bakamla ke DPR

    Fachri Audhia Hafiez - 29 April 2021 15:43 WIB
    Kader PDI Perjuangan Disebut Jadi Penghubung Proyek di Bakamla ke DPR
    Ilustrasi: Medcom.id



    Jakarta: Kader PDI Perjuangan Ali Fahmi Habsyi disebut berperan menghubungkan proyek di Badan Keamanan Laut (Bakamla) ke Komisi I DPR. Proyek itu, yakni backbone coastal surveillance system (BCSS) di Bakamla.

    Kepala Seksi (Kasi) Monitoring Kebijakan Kamla di Direktorat Kebijakan dan Strategi Bakamla, Fery Haryanto mengungkapkan hal ini di persidangan. Dia menjadi saksi untuk terdakwa mantan Koordinator Unit Layanan Pengadaan (ULP) Bakamla Juli Amar Ma'ruf.






    "Dia (Fahmi) bilang akan sambungkan proyek ini dengan Komisi I di DPR," ujar Fery di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis, 29 April 2021.

    Baca: Eks Pegawai Bakamla Muluskan PT CMI Teknologi untuk Garap Proyek

    Namun, Fery tak mengetahui maksud menyambungkan dari Fahmi. Dia hanya mengetahui Bakamla sebagai mitra kerja Komisi I. Diduga kuat, hal itu berkaitan dengan upaya memuluskan pembahasan anggaran proyek itu di DPR.

    Anggaran paket pengadaan BCSS itu ditampung dalam APBN-P 2016. Pagu anggaran proyek itu senilai Rp400 miliar.

    Pengakuan Fery tersebut terkuak usai jaksa penuntut umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membacakan berita acara pemeriksaan (BAP) Fery. Pada BAP tersebut Fahmi selaku staf khusus kepala Bakamla bidang perencanaan dan keuangan disebut menemui Kepala Kantor Pengelolaan Informasi Marabahaya Laut (KPIML) Bakamla Arief Meidyanto.

    "Dia (Fahmi) pernah masuk ke ruangan dan saya tanya siapa. Dia mengaku tim ahli Kabakamla ingin temui Arief Meidyanto," ujar Fery.

    Menurut Fery, Fahmi sering menemui Arief dalam beberapa kesempatan. Namun, Fery tak mengetahui lebih jauh mengenai isi pertemuan tersebut.

    Pada dakwaan Juli, Fahmi dan mantan Kepala Bakamla Arie Soedewo disebut pernah bertemu dengan Direktur Utama PT CMI Teknologi, Rahardjo Pratjihno. Rahardjo pada perkara ini sebagai pihak yang diperkaya sebesar Rp60,82 miliar.

    Juli bersama-sama Ketua ULP Bakamla Leni Marlena didakwa merugikan keuangan negara Rp63,82 miliar atas dugaan korupsi proyek BCSS di Bakamla pada 2016. Kedua dianggap memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi. Rahardjo Pratjihno mendapat untung Rp60,82 miliar dan Fahmi Rp3,5 miliar.

    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id