Saksi Sebut Pembayaran Paket Bansos Ditahan Jika Tak Membayar Fee 12 Persen

    Juven Martua Sitompul - 01 April 2021 11:31 WIB
    Saksi Sebut Pembayaran Paket Bansos Ditahan Jika Tak Membayar <i>Fee </i> 12 Persen
    Ilustrasi sidang di Pengadilan Tipikor. Medcom.id/Candra Yuri Nuralam.



    Jakarta: Manager PT Pesona Berkah Gemilang, Muhammad Abdurrahman, mengakui pernah menemui mantan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kementerian Sosial (Kemensos) Matheus Joko Santoso di kawasan Cawang, Jakarta Timur. Pertemuan untuk membahas tagihan PT Tiga Pilar Agro Utama.

    Ini diungkapkan Abdurrahman saat dihadirkan sebagai saksi dalam sidang suap bansos covid-19 di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Rabu, 31 Maret 2021. PT Pesona Berkah Gemilang merupakan perusahaan yang menyediakan isi paket bantuan sosial (bansos) dari PT Tiga Pilar Agro Utama.






    "Saya sampai di Cawang itu awalnya saya enggak boleh masuk atas nama PT Pesona. Jadi (kemudian) saya bilang Tiga Pilar, asisten Pak Joko (antarkan) sampai  ke atas, ketemu Pak Joko," kata Abdurrahman.

    Dalam pertemuan itu, Abdurrahman dan Joko membicarakan ihwal tagihan PT Tiga Pilar Agro Utama. Sebab, tagihan dari PT Tiga Pilar Agro Utama belum dibayarkan selama kurang lebih satu bulan.

    "Pak, saya mau tanya mengenai tagihan kenapa kok belum keluar, katanya cuma sebentar cuma 14 hari kerja. Tapi sudah lama sekali sudah satu bulan lebih kita belum dibayar Tiga Pilar ini," ujar Abdurrahman menirukan pembicaraan dalam pertemuan itu.

    Menurut Abdurrahman, Joko saat itu menyampaikan PT Tiga Pilar Agro Utama harus menyelesaikan terlebih dahulu permintaannya. "Belum, harus selesai dulu, itu bahasanya," ucap Abdurrahman.

    Sementara itu, Direktur Utama PT Pesona Berkah Gemilang Sonawangsih yang juga dihadirkan sebagai saksi mengakui mendapat informasi dari Abdurrahman kalau Joko belum menerima fee sebesar 12 persen. Permintaan itu disampaikan saat Abdurrahman bertemu dengan Joko di kawasan Cawang, Jakarta Timur.

    "Jadi saat itu Pak Abdurrahman telah menghadap Joko dan Pak Ian (Ardian Iskandar Maddanatja), jadi dia menghadap ke kantor saya. 'Bu yang dibilang Pak Ian, kata Pak Joko yang fee 12 persen belum terima sama sekali," kata Sona.

    Baca: MJS Diduga Berbohong Terkait Pungutan Fee Bansos

    Sona mengatakan selama fee sebesar 12 persen itu tidak diterima oleh Joko maka pembayaran paket pengadaan bansos akan tersendat. “Selama uang itu tidak diterima Pak Joko maka Tiga Pilar tidak dicairkan," kata Sona.

    Sona menegaskan dirinya tidak memerintahkan Abdurrahman meminta uang atau memberikan uang kepada Joko. Dia meminta Abdurahman menanyakan soal anggaran pengadaan paket bansos PT Tiga Pilar Utama yang belum dicairkan.

    "Saya tidak menyuruh meminta uang atau mengantarkan uang," kata Sona.

    Harry Van Sidabukke dan Ardian didakwa menyuap mantan Mensos Juliari P Batubara dengan total Rp3,2 miliar. Suap itu untuk memuluskan penunjukan perusahaan penyedia bantuan sosial (bansos) di Jabodetabek pada 2020.

    Keduanya didakwa dengan Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

    (JMS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id