comscore

Menanti Pembuktian Jejak Terorisme Munarman

Arga sumantri - 30 Maret 2022 23:42 WIB
Menanti Pembuktian Jejak Terorisme Munarman
Munarman/Beranda Antara
Jakarta: Setahun lalu, ledakan bom terjadi di depan Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan. Aksi yang dilakukan sepasang suami istri ini terjadi selepas ibadah Minggu Palma atau misa pembuka pekan suci paskah, pada 28 Maret 2021.

Sebanyak 19 orang yang merupakan jemaat dan petugas keamanan gereja mengalami luka ringan hingga berat. Pelaku merupakan laki-laki berinisial L dan perempuan berinisial YSF. Keduanya merupakan karyawan swasta dan baru menikah enam bulan.
 
Keduanya melakukan aksi bom bunuh diri dari atas sepeda motor. Pelaku sempat ingin masuk ke dalam gereja, namun diadang petugas keamanan.
"Kita tentu tidak bisa lupa, karena banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari peristiwa itu agar tidak terulang peristiwa yang sama," kata Kepala Bagian Bantuan Operasi (Kabagbanops) Densus 88 Antiteror Polri Kombes Aswin Siregar saat dihubungi Medcom.id, Rabu, 30 Maret 2022.

Aswin mengatakan mengingat insiden itu bukan berarti hendak memunculkan trauma bagi korban atau pihak-pihak yang menjadi saksi mata. Insiden itu harus membuat seluruh pihak menyadari kalau potensi ancaman teroris itu nyata.

"Dan kita berusaha terus menjaga atau membendung, serta mengungkap jaringan-jaringan teroris tersebut," ujar dia.

Aswin mengungkapkan Densus 88 sejatinya sudah berupaya melakukan tindakan preventif strike beberapa pekan sebelum peristiwa ledakan tersebut. Hasil pemeriksaan dan dokumen yang dikumpulkan Densus 88, Gereja Katedral Makassar bukan satu-satunya target teroris.

"Ada sekitar lima atau enam titik yang akan diserang oleh mereka, dan semuanya berhasil digagalkan. Namun pada saat ledakan itu terjadi, kita langsung teringat ini adalah rangkaian dari upaya preventif strike, masih ada anggota kelompok yang berusaha menunjukkan eksistensinya dan perlawanannya," beber Aswin.

Pascakejadian, Densus bergerak cepat. Hampir seluruh jaringan yang terkait dengan peristiwa ledakan itu dibongkar. Baik yang ada di sekitar Makassar, maupun kelompok yang terafiliasi di daerah lain. 

Pada 2021, kata Aswin, merupakan tahun penangkapan teroris terbanyak dalam sejarah Densus sejak kasus bom Bali dan Hotel JW Marriot. Jumlah terduga teroris yang ditangkap mencapai 370 orang. 

"Kita tidak mau ada peristiwa yang serupa lagi. maka lebih baik kita lakukan preventif strike tadi. Intinya mencegah sebelum terjadi. Baik pada tahapan atau rencana," ungkap dia.

Aswin mengatakan pengungkapan kasus terorisme biasanya dihadapkan pada proses penangkapan terhadap pelaku penyerangan atau eksekutor. Namun, Densus 88 kini sudah bergerak lebih maju dengan adanya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

"Adanya Undang-Undang Nomor 5 Taun 2018 memberikan ruang lebih luas bagi kami, karena untuk bisa menyasar 'ke atas'. Ini bukan tiba-tiba seseorang terinspirasi lalu meledakkan diri, tidak. (Terorisme) ini suatu proses panjang," jelas dia.
 







Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id