Kejagung Bidik Tersangka Korupsi BTN Rp300 Miliar

    Lukman Diah Sari - 27 November 2019 15:57 WIB
    Kejagung Bidik Tersangka Korupsi BTN Rp300 Miliar
    Ilustrasi - Medcom.id.
    Jakarta: Penyidik Pidana Khusu (Pidsus) Kejaksaan Agung meningkatkan status kasus dugaan korupsi pemberian kredit dari BTN (Tbk) kepada PT Batam Island Marina (BIM) ke penyidikan. Jaksa penyidik segera menetapkan tersangka perkara korupsi Rp300 miliar tersebut. 

    "Sprindik (Surat Perintah Penyidikan) keluar, baru kita segera mungkin menentukan pihak-pihak yang harus dimintai pertanggungjawaban," kata Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) M Adi Toegarisman di Kejaksaan Agung, Jakarta, Rabu, 27 November 2019. 

    Dia menerangkan pihaknya tengah mengumpulkan bukti untuk menetapkan tersangka. Dia menegaskan penetapan tersangka dilakukan dalam waktu dekat.

    "Kita tinggal mengumpulkan alat bukti berdasarkan alat bukti permulaan tadi. Kita peristiwa pidananya harus terang lagi. Saya pikir tidak terlalu lama," ucapnya.

    Informasi yang dihimpun, BTN selaku debitur mengucurkan kredit ke PT BIM selaku kretidur sebesar Rp100 miliar untuk pembangunan vila di Pulau Manis, Batam, Kepulauan Riau. Diduga ada penyimpangan dalam pemberian kredit awal, yakni jaminan pokok berupa piutang senilai Rp400 miliar yang diduga tidak valid. Perubahan jaminan tambahan dikurangi, sehingga diduga rasio kecukupan jaminan menjadi tidak cukup.

    Selain itu terjadi side streaming yaitu penggunaan fasilitas kredit dipergunakan untuk membayar hutang kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa/pemegang saham. Kredit modal kerja yang diperoleh 24 Desember 2014 dipergunakan untuk Refinancing Hutang Pihak Istimewa.

    Masing-masing untuk membayar hutang kepada Dirut PT BIM Ade Seohari senilai Rp70 Miliar dan Luky Winata selaku Komisaris Utama PT BIM senilai Rp30 Miliar.

    PT BIM juga meminta tambahan kredit dan dikucurkan kredit Rp 200 miliar. Namun kredit berujung macet dan minta direstrukturisasi hutang PT. BIM. PT BIM tidak pernah memenuhi persyaratan restrukturisasi yang dipersyaratkan oleh BTN, namun kolektibilitas kredit PT. BIM diduga direkayasa sehingga tercatat tetap dalam kondisi kolektibiitas lancar.

    Sementara itu hasil audit yang dilakukan Auditor Ernest & Young menyatakan keuangan PT BIM dikategorikan sebagai praktek window dressing (membuat laporan keuangan terlihat lebih baik dari realita yang ada, sehingga dapat diduga terjadi potensi manipulasi angka, data dan informasi).

    Praktik ini berdampak dilakukannya downgrade nilai kolektibilitas PT. BIM menjadi Non Performing Loan (Kurang Lancar). Terkait itu, Direksi BTN bersama-sama petugas perkreditan ditingkat kantor cabang maupun tingkat kantor pusat telah bersama-sama melakukan rekayasa pembukuan bank (window dressing) dengan melakukan penanggulangan tunggakan angsuran debitur melalui pembayaran pihak ke-3.

    Pada 2018 kredit dinyatakan macet dan dilakukan penyelamatan kredit dengan cara cessie (penjualan piutang) kepada PT. Pusat Pengelola Asset (Persero) atau PT.PPA (Persero)



    (LDS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id