Nurhadi Pakai Uang Suap untuk Liburan hingga Renovasi Rumah

    Fachri Audhia Hafiez - 22 Oktober 2020 12:57 WIB
    Nurhadi Pakai Uang Suap untuk Liburan hingga Renovasi Rumah
    Mantan Sekretaris Mahkamah Agung, Nurhadi. Antara/Sigid Kurniawan
    Jakarta: Eks Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi dan menantunya, Rezky Herbiyono, didakwa menerima suap senilai Rp45,7 miliar dari Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT) Hiendra Soenjoto. Keduanya memakai uang suap untuk berlibur ke luar negeri, membeli mobil, hingga renovasi rumah.

    "Antara tanggal 19 Juni 2015 hingga 22 Juli 2015 untuk berlibur ke luar negeri sejumlah Rp598 juta," kata jaksa penuntut umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat membacakan surat dakwaan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis, 22 Oktober 2020.

    Nurhadi dan Rezky juga tercatat mempergunakan uang suap untuk biaya pengurusan dan renovasi rumah di Jalan Patal Senayan Nomor 3B, Jakarta Selatan, sejumlah Rp2,6 miliar. Uang haram itu digunakan pada 19 Juni hingga 27 Oktober 2015.

    Pada 25 Mei 2015 hingga 14 Januari 2016, keduanya membeli mobil Land Cruiser, Lexus, Alphard beserta aksesoris. Total nilai pembelian kendaraan roda empat itu Rp4,6 miliar.

    Nurhadi dan Rezky juga tercatat membeli barang mewah bermerek dalam kurun waktu Mei 2015 hingga Januari 2016. Barang-barang itu berupa tas merek Hermes senilai Rp3,2 miliar, pakaian senilai Rp396 juta, dan jam tangan senilai Rp1,4 miliar.

    Baca: Nurhadi Didakwa Menerima Suap Rp45,7 Miliar

    Utang Nurhadi dan Rezky yang bernilai Rp10,9 miliar juga ditutup memakai uang hasil suap itu. Kemudian, keduanya mempergunakan Rp7,9 miliar untuk kepentingan lain.

    Catatan lain dari penggunaan uang suap itu seperti membeli lahan sawit di Padang Lawas, Sumatra Utara, senilai Rp2 miliar; transfer ke istri Nurhadi, Tin Zuraida, total Rp1,3 miliar. Kemudian, tarik tunai sejumlah Rp7,4 miliar; dan menukarkan dengan mata uang asing sebanyak Rp4,3 miliar.

    Jaksa mengatakan uang haram diberikan kepada Nurhadi dan Rezky agar mengupayakan penangangan perkara PT MIT melawan PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN). Kedua perusahaan berperkara soal perjanjian sewa menyewa depo kontainer milik PT KBN.

    Suap juga mengalir saat Nurhadi dan Rezky diminta Hiendra memenangkan gugatan melawan Azhar Umar. Gugatan dilayangkan Azhar ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat hingga tingkat kasasi terkait perkara kepemilikan saham.

    Nurhadi dan Rezky didakwa melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

    (SUR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id