KPK Tahan Hong Artha

    Fachri Audhia Hafiez - 27 Juli 2020 19:12 WIB
    KPK Tahan Hong Artha
    Gedung Merah Putih KPK/MI/Rommy Pujianto
    Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menahan Direktur dan Komisaris PT Sharleen Raya (JECO Group), Hong Artha John Alfred. Hong Artha merupakan tersangka kasus dugaan korupsi proyek di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Tahun Anggaran 2016.

    "Setelah memeriksa saksi dengan jumlah 80 orang, KPK melakukan penahanan tersangka HA (Hong Artha)," kata Wakil Ketua KPK Lili Pintauli Siregar di Gedung Merah Putih KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Senin, 27 Juli 2020.

    Hong Artha ditahan selama 20 hari, terhitung sejak Senin, 27 Juli 2020 hingga Sabtu, 15 Agustus 2020. Ia dijebloskan di rumah tahanan (rutan) Klas I Jakarta Timur cabang KPK di Gedung Merah Putih KPK.

    Hong Artha merupakan tersangka ke-12 dalam perkara ini. Sementara 11 tersangka lain terdiri dari lima anggota DPR periode 2014-2019 yakni Damayanti Wisnu Putranti, Budi Supriyanto, Musa Zainudin, Yudi Widiana Adia dan Andi Taufan Tiro.

    Baca: Hong Artha Dicecar Soal Guyur Uang Terkait Proyek PUPR

    Kemudian Bupati Halmahera Timur periode 2016-2021 Rudy Erawan, dan Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) IX Maluku dan Maluku Utara Amran Hi Mustray. Termasuk Direktur Utama PT Windu Tunggal Utama (WTU) Abdul Khoir, Komisaris PT Cahaya Mas Perkasa (CMP) So Kok Seng, swasta Julia Prasetyarini, dan ibu rumah tangga Dessy A Edwin.

    "Seluruh tersangka tersebut telah divonis bersalah oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dan mempunyai kekuatan hukum tetap," ujar Lili.

    Hong Artha diduga memberikan uang kepada sejumlah pihak terkait proyek di lingkungan Kementerian PUPR. Fulus sebesar Rp10,6 miliar itu diberikan kepada Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) IX Maluku dan Maluku Utara Amran Hi Mustary pada 2015.

    Mantan anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan Damayanti Wisnu Putranti turut menerima fulus sebesar Rp1 miliar. Dalam perkara ini, Amran telah berstatus terpidana dan divonis enam tahun penjara. Damayanti dibui empat tahun lima bulan.

    Hong Artha disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

    (ADN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id