Jaksa Pertajam Keterangan Kelebihan Pengadaan Pesawat oleh Garuda

    Fachri Audhia Hafiez - 13 Februari 2020 15:45 WIB
    Jaksa Pertajam Keterangan Kelebihan Pengadaan Pesawat oleh Garuda
    Sidang terdakwa eks Dirut PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar dan eks Direktur Utama PT Mugi Rekso Abadi (MRA) Soetikno Soedarjo. Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafie
    Jakarta: Jaksa penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengonfirmasi penambahan dua pesawat dalam pengadaan armada pesawat (fleet plan) oleh PT Garuda Indonesia (Persero) hingga 2014. Semula hanya empat menjadi enam pesawat.

    Jaksa KPK Nanang Suryadi mengungkapkan fakta itu saat membacakan berita acara pemeriksaan (BAP) mantan EVP Corporate Planning Garuda Indonesia, Setyo A Wibowo. Dia diperiksa sebagai saksi untuk terdakwa eks Direktur Utama Garuda Indonesia, Emirsyah Satar, dan mantan Direktur Utama PT Mugi Rekso Abadi (MRA) Soetikno Soedarjo.

    "Mengacu pada fleet plan 2009-2014 yang di dalamnya berencana mengadakan empat pesawat Airbus A330 200," kata Jaksa Nanang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jalan Bungur Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis, 13 Februari 2020.

    Penambahan peserta bermula saat Airbus mengajukan proposal penawaran pembelian sebanyak 10 unit pesawat pada 23 April 2009. Setelah dipelajari, akhirnya disepakati dalam rapat board of directors (BOD) Garuda Indonesia yang dipimpin oleh Emirsyah pengadaan enam pesawat.

    Jaksa Pertajam Keterangan Kelebihan Pengadaan Pesawat oleh Garuda
    Ilustrasi. Foto: MI/Amiruddin Abdullah

    Kala itu, beber Nanang, Wibowo mengetahui pengadaan pesawat hanya empat unit. Pengadaan enam pesawat Airbus A330 200 otomatis memengaruhi keuangan perusahaan pelat merah tersebut.

    "Pada saat itu 'saya tidak mengingatkan direksi bahwa dalam fleet plan hanya tercantum cara pengadaan empat pesawat A330 200, dengan jumlah total keseluruhan pengadaan pesawat A330 200 hingga 2014'. Tapi saudara enggak ingat kenapa bisa ada penambahan dua unit?" kata Jaksa Nanang sembari membacakan BAP.

    Wibowo mengaku tidak ingat proses justifikasi hingga ditambahnya dua pesawat. "Mohon maaf saya tidak ingat pak (proses penambahan pesawat)," ujar Wibowo.

    Emirsyah didakwa menerima Rp46,3 miliar. Suap dari pihak Roll-Royce Plc, Airbus, Avions de Transport Regional melalui PT Ardyaparamita Ayuprakarsa milik Soetikno Soedarjo, dan Bombardier Kanada. Suap diberikan karena Emirsyah  memilih pesawat dari tiga pabrikan dan mesin pesawat dari Rolls Royce.

    Emirsyah didakwa melanggar Pasal 12 huruf b atau 11 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.

    Soetikno didakwa memberikan uang kepada Emirsyah Rp5,859 miliar, USD884.200 (Rp12,35 miliar), EUR1.020.975 (Rp15,8 miliar), dan SGD1.189.208 (Rp12,2 miliar). Fulus diberikan agar Emirsyah membantu kegiatan dan pengadaan sejumlah barang oleh Garuda Indonesia.

    Soetikno didakwa melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP.





    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id