Eks ISIS Dikhawatirkan Jadi Virus Baru untuk Indonesia

    Nur Azizah - 05 Februari 2020 18:38 WIB
    Eks ISIS Dikhawatirkan Jadi Virus Baru untuk Indonesia
    Menko Polhukam Mahfud MD. Foto: MI/M Irfan
    Jakarta: Pemerintah masih menghitung manfaat dan kerugian dari rencana pemulangan 600 warga negara Indonesia (WNI) eks ISIS ke Tanah Air. Pemulangan eks ISIS jangan sampai menjadi bumerang untuk Indonesia.

    "Belum diputuskan (rencana pemulangan eks ISIS) karena ada manfaat dan mudaratnya. Mudaratnya kalau dipulangkan nanti bisa menjadi masalah di sini, bisa menjadi virus baru di sini," kata Mahfud di Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu, 5 Februari 2020.

    Mahfud menilai para eks ISIS harus mengikuti program deradikalisasi bila ingin kembali ke Indonesia. Hal ini untuk menghilangkan paham radikal yang sudah tertanam sejak berada di Suriah. "Tapi kan kalau deradikalisasi waktunya terbatas, sehingga kalau nanti habis deradikalisasi diterjunkan ke masyarakat nanti bisa kambuh lagi," ungkap dia.

    Menurut dia, sel terorisme bisa kembali muncul ketika eks ISIS menerima perlakuan yang tidak baik dari masyarakat. "Kalau dijauhi nanti dia jadi teroris lagi kan," ucap dia.

    Mantan Ketua MK ini dilema dengan wacana pemulangan eks ISIS ini. Karena mereka pun masih punya hak sebagai warga negara.

    Mahfud mengaku masih mencari formula terbaik untuk Indonesia dan eks ISIS. Dia menegaskan ketaatan terhadap aspek hukum dan konstitusi sangat penting.

    "Kita sedang mencari formula, bagaimana aspek hukum serta aspek konstitusi dari masalah teroris pelintas batas ini terpenuhi semuanya. Kalau ditanya ke Menkoplhukam itu jawabannya," pungkas dia.

    Eks ISIS Dikhawatirkan Jadi Virus Baru untuk Indonesia
    Kamp Al-Hol di Suriah menjadi tempat tinggal keluarga dari anggota ISIS. Foto: AFP

    Tolak Eks ISIS

    Secara pribadi, Mahfud tak ingin eks ISIS balik ke Indonesia. Menurut dia, pemulangan bekas foreign teroris fighter (FTF) sangat berbahaya untuk Indonesia.

    "Kalau Mahfud setuju untuk tidak dipulangkan karena bahaya bagi negara dan itu secara hukum paspornya bisa saja dicabut, ketika dia pergi secara ilegal ke sana," tegas Mahfud.

    Mahfud menyebut eks ISIS tersebut juga belum tentu memiliki paspor asli. Apalagi, mereka pergi tanpa izin yang jelas dari negara.

    "Dan dari banyak negara yang punya FTF itu belum ada satupun yang menyatakan akan dipulangkan. Ada yang selektif, kalau ada anak-anak yatim akan dipulangkan, tapi pada umumnya tidak ada yang mau memulangkan teroris ya," pungkas Mahfud.



    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id