Polisi: Napoleon Ingin Menunjukkan Berkuasa di Rutan

    Siti Yona Hukmana - 30 September 2021 15:05 WIB
    Polisi: Napoleon Ingin Menunjukkan Berkuasa di Rutan
    Eks Kepala Divisi Hubungan Internasional Polri Irjen Napoleon Bonaparte. Foto: Medcom.id/Siti Yona Hukmana



    Jakarta: Terdakwa Inspektur Jenderal (Irjen) Napoleon Bonaparte diketahui dua kali menganiaya tersangka penistaan agama Muhammad Kosman alias M Kece. Dia disebut merasa menjadi jagoan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri

    "Dia ingin menunjukkan bahwa yang berkuasa di sel adalah NB (Napoleon Bonaparte)," kata Direktur Tindak Pidana Umum (Dirtipidum) Bareskrim Polri Brigadir Jenderal (Brigjen) Andi Rian Djajadi saat dikonfirmasi, Kamis, 30 September 2021. 

     



    Menurut dia, penganiayaan pertama terjadi saat Napoleon bersama beberapa tahanan memukuli dan melumuri M Kece dengan kotoran manusia. Insiden itu berlangsung di kamar sel M Kece pukul 01.00 WIB, Kamis, 26 Agustus 2021. 

    Napoleon, yang tersandung kasus suap dan penghapusan red notice buron Djoko Tjandra, kembali berulah di hari yang sama, pukul 15.00 WIB. Dia memukuli M Kece seorang diri. Namun, Andi tak menyebutkan lokasi penganiayaan itu.

    Baca: Karutan Hingga Kepala Jaga Diduga Melanggar Etik Terkait Kasus Penganiayaan M Kece

    "(Kece) dipukul dengan tangan kosong," ujar Andi. 

    Andi menyebut tidak ada petugas Rutan Bareskrim yang mengetahui penganiayaan tersebut, meski terjadi dua kali di hari yang sama. Petugas, kata dia, baru tahu setelah korban membuat laporan polisi. 

    Polisi menetapkan lima tersangka dalam kasus ini. Mereka ialah Napoleon; tahanan kasus uang palsu, DH; narapidana kasus Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), DW; narapidana kasus penipuan dan penggelapan, H alias C alias RT; dan narapidana kasus perlindungan konsumen, HP.

    Kelima tersangka dijerat Pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan dan 351 KUHP tentang penganiayaan. Mereka terancam hukuman pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.

    Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri juga memutuskan tiga petugas Rutan Bareskrim melanggar kode etik kepolisian. Ketiganya ialah kepala rutan, kepala jaga, dan anggota jaga. 

    Mereka diduga melanggar Pasal 4 (d) dan (f) Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 2 Tahun 2003 tentang Peraturan Disiplin Anggota Polri. Beleid itu berisi pelanggaran tidak disiplin, tidak melaksanakan standar operasional prosedur (SOP) menjaga tahanan; dan pelanggaran terkait peraturan kedinasan.

    Mereka segera menjalani sidang komisi disiplin. Irjen Napoleon juga akan menjalani sidang etik profesi Polri setelah kasusnya dalam penganiayaan M Kece inkrah. 

    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id