Dirut Hutama Karya Mangkir dari Panggilan KPK

Juven Martua Sitompul - 10 Januari 2019 22:15 wib
Juru Bicara KPK Febri Diansyah. Foto: MI/Rommy Pujianto.
Juru Bicara KPK Febri Diansyah. Foto: MI/Rommy Pujianto.

Jakarta: Direktur Utama PT Hutama Karya (Persero) Tbk, Bintang Perbowo, mangkir dari panggilan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dia sedianya akan diperiksa sebagai saksi kasus dugaan korupsi pembangunan Gedung IPDN di Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
 
Satu saksi lain yakni Kepala Divisi Keuangan PT Hutama Karya, Anis Anjayani, juga tak memenuhi panggilan penyidik. Kedua orang ini sedianya diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Kepala Divisi Gedung PT Hutama Karya Budi Rahmat Kurniawan.
 
"Dua saksi (Bintang Perbowo dan Anis Anjayani) tidak hadir," kata juru bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Kamis, 10 Januari 2019.
 
Penyidik bakal menjadwal ulang pemeriksaan kedua petinggi perusahaan BUMN tersebut. Namun, Febri belum mendapat jadwal pemeriksaan ulang untuk kedua anak buah Menteri BUMN Rini Soemarno itu.
 
"Pemeriksaan akan dijadwalkan ulang namun belum ditentukan waktunya," katanya.
 
General Manager Divisi Gedung PT Hutama Karya, Budi Rachmat Kurniawan, ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi proyek pengadaan konstruksi Gedung IPDN Sumbar tahun Anggaran 2011, bersama dengan Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Setjen Kementerian Dalam Negeri Dudy Jocom.

Baca: PNS Kemendagri Diperiksa KPK Terkait Korupsi Gedung IPDN

Saat proyek ini bergulir, Dudy Jocom tercatat sebagai Pejabat Pembuat Komitmen Pusat Administrasi Keuangan dan Pengelolaan Aset Sekjen Kemendagri tahun 2011.
 
Dalam kasus ini, Budi dan Dudy diduga telah menyalahgunakan kewenangan untuk memperkaya diri sendiri dan orang lain. Akibatnya, kerugian uang negara mencapai Rp34 miliar dari total nilai proyek Rp125 miliar.
 
Atas perbuatannya, Budi dan Dudy disangkakan melanggar Pasal 2 ayat 1 huruf a atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsisebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana.




(FZN)


BACA JUGA
BERITA LAINNYA

Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.