Juru Ukur Tanah Menanti Keadilan

    Juven Martua Sitompul - 27 November 2020 23:37 WIB
    Juru Ukur Tanah Menanti Keadilan
    Ilustrasi. Medcom.id
    Jakarta: Paryoto mengaku tak mengira bakal berurusan dengan hukum usai pensiun dari juru ukur tanah Badan Pertanahan Nasional (BPN). Dia kini sebagai terdakwa atas dugaan pemalsuan dan penerimaan suap terkait pengukuran tanah di Cakung Barat pada 2011.

    Menurut pria berusia 62 tahun itu, dirinya hanya mantan juru ukur tanah BPN, pensiunan biasa. Namun, peristiwa yang mesti dijalaninya tahun ini bisa dibilang tidak biasa.

    Tak hanya harus menjalani proses hukum, dia juga diserang bertubi-tubi, mulai dari aksi demonstrasi puluhan orang yang menuntutnya dihukum berat, hingga tuduhan-tuduhan di media sosial. Paryoto bahkan bingung dengan perkara yang menjeratnya sebagai terdakwa.

    "Sudah ratusan kali saya melakukan pengukuran tanah. Semuanya saya jalankan sesuai SOP (standar operasional prosedur). Enggak beda dengan saya lakukan di tanah Cakung Barat, tapi yang satu itu membuat saya jadi tersangka," kata Paryoto kepada wartawan, Jakarta, Jumat, 27 November 2020.

    Paryoto mengingat betul ihwal dirinya tersangkut kasus ini. Dia ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Metro Jaya pada Mei 2020. "Saya kaget. Down. Istri saya jelas shock," kata dia.

    Saat itu, Paryoto langsung mengadu ke mantan atasannya, kepala seksi, kabid, lalu disarankan ke Kakanwil. Saat bersama Kakanwil, Paryoto ditunjukkan isi perbincangan WhatsApp antara Kakanwil dengan Kepala Pertanahan Jaktim.

    "Saya cuma lihat sepintas. Isinya, saya dijamin aman walaupun tersangka," kata Paryoto.

    Kepala Pertanahan Jaktim memberi nomor Paryoto kepada seseorang bernama Awi. Orang itu kemudian menghubungi Paryoto, meminta bertemu dengan iming-iming akan membantu. Keduanya lalu bertemu di hotel di kawasan Pluit.

    Baca: Haris Azhar Diminta Pelajari Kasus Sengketa Tanah di Cakung

    Di sana, Awi meminta Paryoto mengaku menerima uang dari Achmad Djufri, utusan si empunya tanah, Benny Tabalujan, yang mendampinginya saat melakukan pengukuran. Paryoto diminta mengaku menerima uang dengan nilai banyak.

    Awi bahkan meyakinkan Paryoto jika dia akan selamat jika mengakui hal tersebut. "Awi bilang, kepala saya jaminannya," ucap dia.
     



    • Halaman :
    • 1
    • 2
    Read All




    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id