Polisi: Alasan Ketidakhadiran Rizieq dan Menantu Tidak Patut

    Siti Yona Hukmana - 02 Desember 2020 16:50 WIB
    Polisi: Alasan Ketidakhadiran Rizieq dan Menantu Tidak Patut
    (Ilustrasi) Pimpinan FPI Rizieq Shihab. MI/Arya Manggala
    Jakarta: Imam Besar Front Pembela (FPI) Rizieq Shihab dan menantunya Muhammad Hanif Alatas tidak memenuhi panggilan pemeriksaan pada Selasa, 1 Desember 2020. Rizieq absen karena sakit, sedangkan Hanif mengikuti agenda lain.

    "Setelah diteliti bahwa memang kepatutan dan wajar ini belum ada," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu, 2 Desember 2020.

    Alasan berhalangan hadir disampaikan oleh masing-masing pengacara Rizieq dan Hanif. Namun, pengacara keduanya tidak menyertakan bukti berhalangan hadir.

    Yusri menjelaskan dalam aturan perundang-undangan harus ada alasan patut dan wajar. Agar alasan itu dapat diterima oleh penyidik.

    "Kalau memang dinyatakan sakit harus ada surat dokter yang memang harus bisa disampaikan ke kita untuk bisa dipertanggungjawabkan oleh dokternya, sakitnya sakit apa," kata Yusri.

    Penyidik tidak menerima alasan Rizieq dan Hanif. Keduanya kembali dipanggil Senin, 7 Desember 2020. Surat panggilan langsung diantarkan penyidik ke kediaman Rizieq di Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu, 2 Desember 2020.

    "Penyidik mencoba untuk menemui saudara MRS (Rizieq) di Petemburan untuk memberikan surat panggilan kedua, yang dengan harapan hari Senin nanti kedua orang MRS maupun HA (Hanif) ini bisa hadir, itu harapan kami, mudah-mudahan ini bisa terlaksana," kata Yusri.

    Baca: Polisi Panggil Ulang Rizieq dan Menantu Senin Depan

    Akad nikah anak Rizieq dan Maulid Nabi Muhammad SAW di kawasan Petamburan, Jakarta Pusat, pada Sabtu, 14 November 2020 ramai didatangi pengikut Rizieq. Banyak jemaah yang berkerumun, tidak menjaga jarak, dan berpotensi menyebarkan covid-19.
     
    Sejumlah peserta juga kedapatan tidak menggunakan masker. Banyak pula peserta acara menggunakan masker tak sesuai ketentuan, seperti digunakan di bawah dagu. Akibatnya, terjadi klaster baru penyebaran covid-19 di lokasi tersebut.

    Polisi menyatakan ada unsur pidana dalam pelanggaran protokol kesehatan tersebut. Kini polisi tengah mencari tersangka yang bisa dikenakan Pasal 93 Undang-Undang Nomor 6 tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan, dengan ancaman kurungan satu tahun atau denda Rp100 juta.

    Lalu, Pasal 160 KUHP tentang Penghasutan untuk Melakukan Kekerasan dan Tidak Menuruti Ketentuang Undang-undang, dengan ancaman enam tahun penjara atau denda Rp4.500. Pasal 216 ayat 1 KUHP tentang Menghalang-halangi Ketentuan Undang-undang, dengan ancaman pidana penjara empat bulan dua minggu atau denda Rp9.000.

    (JMS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id