Menjaga Ingatan, Kasus Pembunuhan Wartawan Udin yang Masih Gelap

    Ahmad Mustaqim - 04 Mei 2021 08:24 WIB
    Menjaga Ingatan, Kasus Pembunuhan Wartawan Udin yang Masih Gelap
    25 poster bergambar Udin yang dipajang dalam acara pamera Memorabilia Wartawan Udin di Antologi Space, 3-10 Mei 2021. Medcom.id/Ahmad Mustaqim



    Yogyakarta: Deretan gambar almarhum Fuad Muhammad Syafrudin, alias Udin, wartawan Harian Bernas, berjajar di Antologi Space, Dusun Karangwuni, Desa Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di belakangnya menyusul repro kamera dan alat studio foto yang pernah digunakan almarhum Udin untuk menambah penghasilan untuk menghidupi perekomian keluarga.

    Berbagai benda tersebut merupakan pameran dalam rangka memperingati hari kebebasan pers internasional yang jatuh setiap 3 Mei. Pameran itu digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta berkolaborasi dengan Connecting Design Studio, IndonesiaPENA, dan sejumlah kelompok, yang bertajuk Memorabilia Wartawan Udin  

     



    "Hari Kebebasan Pers diperingati untuk menginformasikan pelanggaran kebebasan pers, menegaskan prinsip dasar kebebasan pers, dan melawan serangan terhadap kemerdekaan atau independensi media. Selain itu untuk memberikan penghormatan kepada jurnalis yang telah kehilangan nyawa dalam menjalankan tugasnya," kata Ketua AJI Yogyakarta, Shinta Maharani pada Senin, 3 Mei 2021.

    Baca: Jurnalis Tempo Laporkan Dugaan Penganiayaan ke Propam Polri

    Udin meninggal pada 17 Agustus 1996 silam. Ia diduga dibunuh karena berkaitan tulisan-tulisannya yang kritis atas pemerintahan di Kabupaten Bantul.

    Udin merupakan satu dari banyak wartawan yang kasusnya tidak kunjung jelas siapa dalang di baliknya. Padahal, sejumlah karya jurnalistik secara mendalam sudah pernah dibuat untuk membantu aparat mengungkap kasus itu.

    Shinta mengatakan, organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO menyebutkan dalam 14 tahun terakhir, hampir 1.200 jurnalis terbunuh karena melaporkan berita. UNESCO tahun ini memperingati hal serupa dengan mengambil tema informasi sebagai barang publik untuk Hari Kebebasan Pers.

    Baca: Ancaman bagi Jurnalis Disebut Tak Lagi Sekadar Kebebasan Pers

    "Badan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa itu menegaskan pentingnya menghargai informasi sebagai barang publik. Juga mengeksplorasi apa yang dapat dilakukan dalam produksi, distribusi dan penerimaan konten untuk memperkuat jurnalisme dan memajukan transparansi," ucap jurnalis Tempo ini.

    AJI Yogyakarta, kata Shinta, memperingati hari kebebasan pers internasional dan diskusi dengan tujuan mengingatkan pemerintah agar bertanggung jawab menyelesaikan kasus pembunuhan wartawan Udin. Mengingat, kasus tersebut sudah masuk tahun ke 25.

    "Jurnalis bekerja memenuhi hak publik dan sudah sepatutnya mendapat perlindungan dari negara. Celakanya, perlindungan terhadap kerja jurnalistik di Indonesia sangat rendah. Udin adalah salah satu potret buruknya perlindungan terhadap kerja jurnalis," ujarnya.
     



    • Halaman :
    • 1
    • 2
    Read All




    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id