2 Daerah di Jatim Diminta Tetapkan Status Darurat Kekeringan

    Amaluddin - 28 Juli 2019 17:35 WIB
    2 Daerah di Jatim Diminta Tetapkan Status Darurat Kekeringan
    Ilustrasi - Medcom.id.
    Surabaya: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mencatat dua daerah mengalami kekeringan kritis, dan belum menyatakan status darurat kekeringan. Dua wilayah itu ada di Kabupaten Pacitan dan Ngawi.

    "Saat ini pemerintah daerah yang sudah menyatakan status Siaga Darurat Kekeringan, ada 15 daerah. Jumlahnya kemungkinan bertambah, karena dua daerah itu belum menyatakan status Siaga Darurat Kekeringan," kata Kepala Pelaksana BPBD Jatim, Suban Wahyudiono, dikonfirmasi, Minggu, 28 Juli 2019.

    Suban berharap pemda segera menyatakan status siaga darurat kekeringan bagi daerah yang alami kering kritis. Dengan begitu Pemprov Jatim dapat mengerahkan bantuan.

    "Ibu Gubernur juga sudah mengimbau melalui surat edaran, agar daerah mengalami kekeringan siaga kekeringan," ujar Suban.

    Suban mengaku telah memetakan daerah yang mengalami kekeringan pada musim kemarau 2019. Dari 38 total kabupaten/kota di Jatim, sebanyak 24 dari 28 daerah terdampak kekeringan mengalami kekeringan kritis.

    Di antaranya, seluruh kabupaten di Madura (Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep). Kemudian Kawasan Tapal Kuda meliputi Kabupaten Lumajang, Sitobondo, Pasuruan, Bondowoso, Banyuwangi dan Probolinggo. 

    Daerah lainnya, yakni Kabupaten Jember dan Pasuruan, Jombang, Nganjuk, Pacitan, Ponorogo, Ngawi dan Madiun. Selanjutnya Gresik, Lamongan, Bojonegoro, Tuban, Blitar, Tulungagung dan Trenggalek.

    "Mengalami kering kritis karena suplai air kurang dari 10 liter per orang per hari, dan jarak airnya lebih dari tiga kilometer. Itu terjadi di 566 desa di 180 kecamatan tersebar di 24 daerah di Jatim," katanya.

    Suban menerangkan Kabupaten Sampang menjadi daerah dengan desa terbanyak mengalami kering kritis, yakni 67 desa. Selanjutnya Kabupaten Tuban sebanyak 55 desa, lalu Kabupaten Pacitan, Ngawi, dan Lamongan.

    "Untuk di desa Bulmatet, Sampang. Itu ada 3.044 KK dengan penduduk sekitar 30 ribu jiwa, tinggalnya di dataran tinggi. Jarak sumber air terdekat 6 sampai 7 kilometer," ujarnya.

    Dia mencontohkan warga di Desa Bira Kecamatan Sokobanah, Sampang. Warga harus mengambil air ke dekat pantai padahal lokasi cukup jauh, sehingga BPBD Jatim langsung membantu menyuplai air bersih.

    "Sebenarnya tidak hanya menjadi tanggung jawab BPBD semata. Butuh peran berbagai pihak untuk mengatasi kekeringan. Misalnya di beberapa daerah, ada perusahaan memberikan CSR-nya untuk pengadaan air bersih. Memang sudah seharusnya seperti ini," ujarnya.



    (LDS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id