Ma'ruf Takut Status Kiai Hilang Gara-gara Pakai Celana

    Mustholih - 13 Desember 2019 17:53 WIB
    Ma'ruf Takut Status Kiai Hilang Gara-gara Pakai Celana
    Wakil Presiden Ma'ruf Amin hadiri konsolidasi organisasi massa keagamaan se-Jawa Tengah di Semarang. Foto: Mustholih
    Semarang: Wakil Presiden Ma'ruf Amin diketahui kerap mengenakan kain sarung saat menghadiri kegiatan resmi kenegaraan. Faktor kenyamanan menjadi alasan Ma'ruf lebih senang mengenakan sarung.

    "Kenapa saya lebih senang sarung, saya takut kiainya hilang," kata Ma'ruf berkelakar saat membuka konsolidasi ormas keagamaan Provinsi Jawa Tengah di Semarang, Jumat, 13 Desember 2019.

    Lagi pula, Ma'ruf mengaku diminta Presiden Joko Widodo untuk tetap mengenakan kain sarung saat pergi menghadiri kegiataan-kegiataan kenegaraan. Meski lebih sering mengenakan sarung, Ma'ruf Amin mengaku tetap berusaha menyesuaikan gaya busananya dengan kondisi kegiatan. 
    "Kemarin saya banyak pakai celana dan batik. Kata Pak Jokowi, "Pak Kiai pakai sarung saja. Kalau pakai celana jadi kelihatan muda 20 tahun. Terus Pak Kiai nyaingi saya.' Akhirnya saya kadang pakai kain kadang pakai celana. Saya fleksibel saja," ujar Ma'ruf menegaskan.

    Saat menghadiri kegiatan konsolidasi organisasi massa keagamaan, Ma'ruf Amin menegaskan kembali komitmen Pemerintah dalam membangun kesejahteraan rakyat Indonesia. Untuk menuju Indonesia Maju, kata Ma'ruf, Pemerintah sedang berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, melanjutkan pembangunan infrastruktur, penyederhanaan birokrasi, dan mendorong transformasi ekonomi. 

    "Kita tahu negara ini sedang bangun visinya menuju Indonesia Maju untuk membangun kesejahteraan bagi rakyat. Membangun kesejahteraan rakyat berarti membangun kesejahteraan umat," jelas Ma'ruf. 

    Ma'ruf meminta ormas seperti Majelis Ulama Indonesia, Dewan Masjid Indonesia, Baznas, dan lain-lain mengawal dan mengamankan program-program Pemerintah yang menyejahterakan umat. 

    "Upaya mengamankan ini tentu dengan menjaga kondisi agar pembangunan tidak terganggu. Mengutuhkan bangsa. Jangan ada lagi yang melakukan upaya-upaya yang mencederai kesepakatan keutuhan bangsa ini," beber Ma'ruf.

    Ma'ruf menyatakan seluruh elemen rakyat bersepakat membangun Bangsa Indonesia berdasarkan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhineka Tunggal Ika. "Jangan ada yang membawa pikiran di luar NKRI. Maka kita katakan NKRI sudah final. Khilafah tertolak karena itu sistem pemerintahan yang beda dengan sistem Republik Indonesia," jelas Ma'ruf.

    Selain mengawal pembangunan Indonesia, Ma'ruf meminta ormas keagamaan juga mengawal Indonesia dari paham intoleran, radikal, dan terorisme. Menurut Ma'ruf, rakyat harus bersikap toleran dalam menghadapi setiap perbedaan. 

    "Kita sebenarnya sudah punya prinsip-prinsip dalam berbeda pendapat. Harus toleransi. Tidak boleh punya sikap ego kelompok dan fanatisme kelompok," jelas Ma'ruf.

    Sebab, mengedepankan ego dan fanatisme kelompok, kata Ma'ruf, merupakan sumber intoleransi. "Kalau intoleran bisa menjadi radikal. Lebih jauh lagi menjadi terorisme. Karena itu harus ada tasamuh (toleran). Bahkan beda agama pun kita harus toleran," tegas Ma'ruf.




    (ALB)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id