Dana Desa di Brebes Fokus Penanganan Stunting

    Kuntoro Tayubi - 21 November 2019 10:50 WIB
    Dana Desa di Brebes Fokus Penanganan Stunting
    Ilustrasi Medcom.id/ Mohammad Rizal.
    Brebes: Pemerintah Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, mulai mengalokasikan anggaran penanganan stunting melalui alokasi Dana Desa. Penanganan stunting menjadi salah satu program pemberdayaan masyarakat di sektor kesehatan yang cukup krusial.

    Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dispermasdes) Kabupaten Brebes, Rofiq Qoidzul Adzam, mengatakan setiap tahun desa diwajibkan mengalokasi untuk penanganan stunting. Sebab angka stunting di Brebes masuk dalam 10 besar tertinggi di Indonesia.

    "Program yang dijalankan di antaranya pemberian makanan tambahan anak melalui puksesmas dan posyandu," kata Rofiq saat dihubungi Medcom.id, Kamis, 21 November 2019.

    Rofiq mengatakan pada penggunaan Dana Desa di 2020 nanti, penanganan stunting lebih difokuskan untuk pencegahan. Pada 2019, anggaran Dana Desa yang disalurkan ke desa penerima total mencapai Rp445 miliar. Jumlah itu akan meningkat pada 2020 mendatang menjadi Rp495 miliar.

    Tercatat 32,7 persen balita di Brebes mengalami keterlambatan dalam tumbuh kembang. Sepuluh desa masuk katagori tertinggi jumlah balita stunting. Secara keseluruhan, balita stunting tersebut mencapai 685 orang, dari jumlah balita 4.919 orang.

    "Jumlah penduduk di sepuluh desa ini sebanyak 71.225 orang. Penduduk katagori keluarga miskin ada 19.433 orang," kata Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Brebes, Nurul Aeny..

    Menurut Nurul hal ini menempatkan posisi kasus stunting di Brebes menjadi nomor satu di Jawa Tengah pada tahun 2018 dan masuk kategori sepuluh besar nasional.

    Besarnya jumlah anak stunting ini salah satunya dipengaruhi oleh kondisi ekonomi keluarga. Sehingga penanganannya bukan hanya dari segi kesehatan, tapi juga melibatkan sektor lain seperti pendidikan dan lainnya. 

    Balita stunting ini akan berdampak pada terganggunya tumbuh kembang intelektual anak. Ini bisa disebabkan karena kurang gizi selama kehamilan sampai berusia dua tahun.

    Di beberapa desa, balita stunting ini juga mengidap gizi buruk. Salah satu balita stunting yang mengidap gizi buruk adalah Waliya Aenun Latifah usia 4,5 tahun. Akibat stunting dan gizi buruk, bobot anak ini hanya 10 kg dan tingginya 96 cm.



    (DEN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id