Membelah Bukit Karst Demi Setetes Air

    Ahmad Mustaqim - 03 Oktober 2019 21:30 WIB
    Membelah Bukit Karst Demi Setetes Air
    Sartono saat menunjukkan jeriken untuk mengangkut air. (Foto: Medcom.id/Ahmad Mustaqim)
    Gunungkidul: Hampir setiap menjelang petang Sartono beranjak menuju sebuah ladang di perbukitan. Warga Dusun Duwet, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ini membawa serta ember dan jeriken melewati lahan tandus dan gersang.

    Sartono lantas melirik sebuah sumber air di antara bebatuan karts dengan dua kolam kecil berdiameter sekitar satu meter. Air dari situlah yang Sartono andalkan memenuhi kebutuhan keluarga sepanjang musim kemarau.

    “Biasanya pagi hari, jam empat mengambil air. Kadang juga sore hari habis dari ladang,” kata dia, Kamis, 3 Oktober 2019.

    Sartono mengaku tak punya pilihan untuk bisa mendapatkan air bersih saat kemarau panjang melanda. Dusun Duwet yang berlokasi di tengah perbukitan karst tak memiliki sumber air. Bahkan, sumur pun tak ada.

    Saat kemarau, pohon jati yang menjulang tinggi hanya menggugurkan daunnya. Kondisi lingkungan sekitar pun tampak gersang.

    Bagi Sartono, mengambil air di lokasi itu menjadi pilihan terbaik. Meskipun, air di kolam kecil itu hanya rembesan dari sumber air yang warga tak tahu berasal darimana.

    Dalam sehari, Sartono bolak-balik enam kali mengambil air pakai jeriken. Sekali jalan, ia membawa dua jeriken dengan ukuran sekitar 25 liter.

    “Jalan kaki bawa air ya sekitar 200 meter. Naik turun perbukitan sudah biasa,” ujarnya.

    Membelah Bukit Karst Demi Setetes Air
    Rumini mengambil air dari kolam kecil di tengah bukit karts. (Foto: Medcom.id/Ahmad Mustaqim)

    Terhitung sejak April lalu Sartono sudah bolak-balik mengambil air di lokasi. Sejak saat itulah musim kemarau mulai menerpa kawasan Gunungkidul.

    Selain untuk kebutuhan domestik, Sartono juga mengambil air untuk minum ternak. Ia memiliki dua ekor sapi serta tiga ekor kambing. Ia meletakkan kandang ternak di tengah ladang. Ini ia lakukan agar kerja mengangkut air tidak sejauh ketika membawa ke rumah.

    Sartono mengaku juga membeli air dari tangki swasta sebanyak tiga kali. Air dari tangki swasta dengan harga Rp130 ribu acap kali banyak unsure kapur. Sementara, air dengan harga Rp150 ribu per tangki lebih bersih.

    “Tapi pakai air dari rembesan airnya jernih. Saya dan keluarga juga pakai untuk memasak dan mandi,” akunya.

    Selain di lokasi itu, terdapat pula sebuah sumber air di bawah pohon besar dan rimbun. Sumber air ini terdapat kamar mandi umum yang dibuat sekadarnya. Banyak perempuan yang setiap hari memanfaatkan sumber air di sana untuk mencusi dan mandi.

    Para perempuan tersebut juga membawa serta air, dengan wadah galon misalnya, untuk dipakai di rumah. “Bawa airnya pakai gendongan kain,” kata Rumini, salah satu warga.

    Rumi biasa memanfaatkan air dari sumber di bawah pohon itu untuk memenuhi kebutuhan mencuci, mandi, dan memasak. Meskipun, Rumi juga sudah sering membeli air dari tangki swasta.

    Kepala Dusun Duwet, Taufik mengungkapkan ada sumber mata air yang bisa dimanfaatkan warganya. Meskipun, debit mata air selalu menurun saat kemarau.

    “Warga tak ada yang mau buat sumur karena di sini perbukitan. Rencananya kami mengusulkan buat sumur bor ke pemerintah desa,” ujar Taufik.

    Saat ini, Kabupaten Gunungkidul masih berstatus siaga darurat kekeringan. Namun, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul Edi Basuki, menilai kondisi di wilayahnya belum darurat. Ia mengatakan anggaran untuk penanggulangan kekeringan masih cukup hingga akhir Oktober, selama ditopang bantuan dari berbagai pihak.



    (MEL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id