Erupsi Merapi Disertai Awan Panas

    Antara - 03 Maret 2020 12:39 WIB
    Erupsi Merapi Disertai Awan Panas
    Wisatawan melihat letusan Gunung Merapi dari Bulit Klangon, Cangkringan, Sleman,DIY. Foto: ANT/Rizky Tulus
    Yogyakarta: Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah kembali erupsi pada Selasa pagi, 3 Maret 2020. Erupsi kali ini didominasi gas.

    "Kejadian ini merupakan erupsi yang masih didominasi gas atau eksplosif yang juga disertai luncuran awan panas dengan jarak dua kilometer ke Sungai Gendol. Masih ke arah bukaan kawah," kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Hanik Humaida, di Yogyakarta, DIY, Selasa, 3 Maret 2020, melansir Antara.

    Dia menerangkan tidak ada tanda awal erupsi lantaran penyebab letusan adalah gas dari proses intrusi magma. Dia mengungkap salah satu tanda awal letusan adalah deformasi di tubuh Gunung Merapi.

    "Kejadian letusan seperti ini masih berpotensi terjadi. Namun, masyarakat tetap diminta tenang, beraktivitas seperti biasa di jarak lebih dari tiga kilometer dan tetap waspada," imbuhnya.

    Sejumlah wilayah di sekitar Gunung Merapi diguyur hujan abu akibat letusan dengan tinggi kolom 6.000 meter. Khususnya di sisi utara-timur Gunung Merapi wilayah Jawa Tengah.

    Baca: Erupsi Gunung Merapi, Bandara Adi Soemarmo Ditutup

    Berdasarkan catatan BPPTKG Yogyakarta, sejumlah wilayah yang mengalami hujan abu berada pada jarak 10 km dari puncak. Yaitu di Kecamatan Musuk dan Kecamatan Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah, dan di Desa Mriyan, Boyolali, yang berjarak 3 kilometer dari puncak mengalami hujan abu bercampur pasir.

    "Kami sudah berkoordinasi dengan BPBD di beberapa wilayah terkait kejadian ini. Warga tidak perlu mengungsi. Jarak aman tetap seperti rekomendasi awal, yaitu lebih dari tiga kilometer dari puncak," bebernya. 

    Hanik menegaskan status Gunung Merapi masih dipertahankan pada level Waspada. Status tersebut sudah ditetapkan sejak 21 Mei 2018 dan tidak ada perubahan apapun.

    "Kami akan terus monitoring perkembangan dan aktivitas seismiknya. Dari rangkaian letusan yang terjadi sejak November 2019 dan kondisi kegempaan, maka Gunung Merapi memasuki fase ke tujuh atau intrusi magma," jelasnya.

    Sementara itu, kata dia, volume kubah lava berkurang. Hal itu terjadi karena ikut terlontar bersamaan dengan erupsi.

    "Kami berharap, masyarakat tetap tenang, tidak mudah termakan hoaks dan mempercayai informasi dari instansi yang berwenang. Informasi mengenai aktivitas Merapi akan selalu diberikan," tandasnya.

    (LDS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id